Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Demo Rekap Suara di Jeneponto

Tembakan Peringatan Polisi Warnai Kerusuhan Massa di Kantor Kecamatan Kelara Jeneponto

Massa aksi masih bertahan di Kantor Kecamatan Kelara, Jeneponto, Sulsel, setelah tembakan peringatan dilepaskan polisi. Rekapitulasi suara Pilkada.

Muh Agung Putra Pratama/Tribun Timur
Suasana keributan di Kantor Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Minggu (1/12/2024). Massa aksi menuntut kejelasan rekapitulasi suara Pilkada 2024. Polisi terpaksa lepaskan tembakan peringatan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, JENEPONTO - Massa aksi masih bertahan di Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Hingga pukul 19.04 Wita, Minggu (1/12/2024), massa terus bertambah dan suasana semakin memanas.

Perundingan untuk membuka daftar hadir pemilih masih terus dilakukan.

Massa meminta KPU Jeneponto bersikap transparan.

Aparat keamanan di lokasi masih berjaga.

Saat waktu memasuki salat Maghrib, terdengar letusan senjata.

Letusan itu untuk berusaha membubarkan massa yang terus berdatangan.

Ketua KPU Jeneponto, Asming Syarif. Ia  memberikan klarifikasi terkait viralnya isu pencoblosan 118 surat suara di Kelara. 
Ketua KPU Jeneponto, Asming Syarif. Ia  memberikan klarifikasi terkait viralnya isu pencoblosan 118 surat suara di Kelara.  (Tribun Timur/Agung)

Di lokasi, sempat terdengar tembakan peringatan ke udara untuk menenangkan massa.

"Persoalan yang kalah atau tidak itu urusan belakang," tegas salah satu simpatisan di lokasi, yang meminta kejelasan.

Selain itu, polisi dari Sat Brimob Polda Sulsel tampak bersenjata lengkap mengamankan lokasi.

Tampak pula anggota TNI turut mengamankan lokasi.

Ketua Bawaslu Kabupaten Jeneponto, Muhammad Alwi, juga hadir di lokasi.

Ketua KPU Dikepung

Ketua KPU Jeneponto, Asming Syarif, dikepung massa saat tiba di kantor Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Minggu (1/12/2024).

Kedatangan Asming Syarif langsung dikepung massa.

Begitu dikepung, Kapolres Jeneponto, AKBP Widi Setyawan, langsung berteriak, "Woi, woi, apa itu!"

Terlihat, wajah Ketua KPU pucat saat memasuki pekarangan kantor kecamatan.

Beruntung, Ketua KPU langsung diamankan oleh personel keamanan.

Ketua KPU Jeneponto, Asming Syarif saat tiba di Kantor Camat Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel). Minggu (1/12/2024). Asming Syarif, dikepung massa saat tiba di kantor Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto. Minggu (1/12/2024)
Ketua KPU Jeneponto, Asming Syarif saat tiba di Kantor Camat Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel). Minggu (1/12/2024). Asming Syarif, dikepung massa saat tiba di kantor Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto. Minggu (1/12/2024) (TRIBUN TIMUR/Muh Agung Putra Pratama)

Brimob bersenjata lengkap dan personel Polres Jeneponto segera menjaga ketegangan massa.

Hingga saat ini, massa yang merasa dirugikan masih bertahan di lokasi.

Rekapitulasi suara kini menjadi polemik di tingkat Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Minggu (1/12/2024).

Massa di kantor kecamatan bersitegang dengan personel gabungan TNI-Polri.

Mereka berusaha merangsek masuk ke lokasi rekapitulasi suara.

Namun, petugas berhasil menahan dan melerai.

Baca juga: KPU Jeneponto Bantah Ada Kecurangan di TPS 02 Kelara

Teriakan massa terus terdengar, sebagian meminta agar rekapitulasi suara dihentikan sementara.

"Kami meminta hadirkan Ketua KPU," teriak salah seorang simpatisan yang berusaha masuk.

Hingga pukul 16.56 Wita sore ini, massa aksi bertahan di depan kantor kecamatan.

Kapolres Jeneponto, AKBP Widi Setyaawan, terlihat datang.

Massa aksi ini terkait oknum anggota KPPS di TPS 02, Kelurahan Tolo’ Kota, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, yang diduga melakukan pelanggaran Pilkada 2024.

Sebelumnya diberitakan, anggota KPPS bernama Ilham mengaku telah menandatangani 118 daftar hadir wajib pilih yang tidak datang pada hari pemungutan suara.

"Saya yang tanda tangan karena saya tidak berani mengambil keputusan kalau tidak ada kesepakatan," kata Ilham yang diinterogasi tokoh masyarakat dalam video yang beredar di Kantor Camat Kelara, Jumat (29/11/2024).

Kejadian bermula pada hari pemungutan suara, Rabu (27/11/2024), saat saksi Paslon Bupati-Wakil Bupati nomor urut 3 di TPS tersebut menemukan kejanggalan pada jumlah daftar pemilih.

Dalam pemungutan suara itu, saksi mengamati perilaku mencurigakan oknum KPPS.

Dugaan tersebut mengarah pada kesepakatan oknum KPPS yang menandatangani kehadiran sejumlah wajib pilih yang tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), Daftar Pemilih Khusus (DPK), dan Daftar Pemilih Tambahan (DPTb). (*)

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Agung Putra Pratama

 

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved