Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pelantikan Presiden dan Catatan Kelam Demokrasi?

Sampai pada apa yang dikerjakan tidak banyak berorientasi terhadap pelayanan dan memberi yang terbaik pada masyarakat.

Tayang:
Editor: Sudirman
Ist
Andi Yahyatullah Muzakkir, Founder Anak Makassar Voice 678 

Andi Yahyatullah Muzakkir

Founder Anak Makassar Voice

TRIBUN-TIMUR.COM - Sampai hari ini saya masih berpikir apa sebabnya tokoh publik sering tidak optimal dalam memberi dan menjalankan peran dan tanggung jawabnya.

Sampai pada apa yang dikerjakan tidak banyak berorientasi terhadap pelayanan dan memberi yang terbaik pada masyarakat.

Kalaulah kita telaah lebih jauh, bagi saya ini erat kaitannya dengan masalah kepemimpinan.

Sebenarnya apa pemimpin itu ? Dan apa perbedaan antara pemimpin dan kepemimpinan.

Tentu pertanyaan ini sangat basic, tapi apa salahnya kita pertanyakan dan pelajari kembali dalam kondisi zaman yang sangat ruwet dan kadang-kadang tidak jelas seperti hari ini.

Masih ingat proses Gibran Rakabuming Raka ? Hari ini telah resmi dilantik menjadi wakil Presiden Indonesia.

Rasa-rasanya sangat mengiris hati dan menimbulkan banyak sekali pertanyaan dan implikasi buruk bagi persepsi publik terutama anak-anak muda karena proses hingga dia sampai pada titik itu bagi saya adalah catatan kelam demokrasi serta abadi dalam ingatan sepanjang perjalanan demokrasi bangsa Indonesia.

Tapi apa yang dialami Gibran Rakabuming Raka dengan berbagai intrik istana, cawe-cawe Jokowi untuk memuluskan akun pemilik fufufafa ini akan terhapus seiring berjalannya waktu.

apalagi dengan jabatan sebagai wakil Presiden melegitimasi dia untuk menghapuskan catatan kelam dengan program blusukan ala Jokowi yang juga tak pernah  masuk pada wilayah Subtansi.

Pertanyaannya, apakah benar kita akan melupakan sejarah yang telah ditorehkan oleh Jokowi dalam hal memaksakan Gibran Rakabuming Raka dengan pengendalian total lembaga negara sebagai instrumen kepentingan Jokowi sehingga benar kejadian sebagai wakil Presiden.

Artinya memang masalah kita hari ini adalah masalah kepemimpinan. Lebih spesifik lagi kepemimpinan terhadap diri sendiri.

Dalam banyak literatur sosial dan pengetahuan pada umumnya menjelaskan bahwa setiap kita adalah pemimpin.

Dan paling minimal adalah memimpin diri sendiri. Tindakan inkonstitusional kemarin jika kita terima tanpa ada rasa kebertolakan itu menandakan bahwa persoalan kita adalah persoalan kepemimpinan individu sebab kita masing-masing telah menyalahi nurani, berpikir benar dan baik.

Dan ini menjadi gambaran umum sebagai bahagian dari rata-rata bahwa masalah bangsa ini letaknya ada pada masalah kepemimpinan. Hal mana kalau kita ada kesadaran tentang kepemimpinan diri, maka tentu kita akan cakap berpikir benar dan baik.

Tentu kita akan berpatron pada nilai-nilai moral, dan tindakan cawe-cawe Jokowi memuluskan akun pemilik fufufafa ini bertentangan dengan moral individu.

Lantas kita dengan sukarela tanpa perlawanan kerasa menerima itu semuanya. 

Apakah kita betul-betul sudah hilang api perlawanannya ? Sejarah bangsa ini dibangun diatas darah-darah perlawanan dan pemberontakan yang mendidih berjuang atas kehendak orang banyak, berontak pada ketakbenaran dan ketakadilan.

Dan yang terjadi sangat bertolak belakang dengan kejadian hari ini.

Akhirnya makin menguatkan kita bahwa masalah dasar bangsa hari ini masalah kepemimpinan.

Mendorong kepemimpinan pada tiap-tiap diri kita untuk terus kritis, ikut menyuarakan, ikut andil, ikut mengambil peran ketika rezim mencoba menyalahi aturan demokrasi adalah bentuk kecintaan terhadap bangsa dan tanah air kita.

Tentang kepemimpinan diri tentu memandu kita untuk berpikir benar dan bertindak baik, mendorong nurani dan nilai-nilai baik, serta membantu kita untuk terus arif dan bijaksana adalah hal penting dalam peran dan tanggung jawab kita sebagai warga negara. 

Proses cawe-cawe dan kepentingan istana meloloskan Gibran Rakabuming sesungguhnya menyalahi nurani kita masing-masing dan kalau kita berterima tanpa ada penolakan sesungguhnya kita telah abai pada apa yang saya maksud seperti berpikir secara benar dan baik.

Adalah peristiwa itu tentu menjadi catatan kelam demokrasi sebab upaya istana dalam mengendalikan lembaga negara sungguh tindakan-tindakan tiran yang sangat kejam dan sewenang-wenang dalam mengukuhkan nepotisme, tentu bertolak belakang dengan cita-cita demokrasi yang baik.

yaitu memberi ruang pada tiap-tiap individu yang berkompeten, berpengalaman, integritas dan punya semangat yang besar untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Selamat Pak Prabowo. Sebagai warga negara. Tiap-tiap kita mesti kritis dalam mengamati fenomena kedepan sebagai wujud perhatian dan cinta tanah air semata.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved