Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Persahabatan dan Dialog Paus Fransiskus

Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, menjadi latar yang unik dan menarik bagi kunjungan bersejarah ini.

Editor: Sudirman
Ist
Dr Ir N Tri Suswanto Saptadi, Dosen Universitas Atma Jaya Makassar (UAJM), Tim Komkep KAMS, Korwil ISKA Sulawesi, Ketua IKDKI Wilayah SulSelTraBar 

Oleh: Dr Ir N Tri Suswanto Saptadi

Dosen Universitas Atma Jaya Makassar (UAJM), Tim Komkep KAMS, Korwil ISKA Sulawesi, Ketua IKDKI Wilayah SulSelTraBar

TRIBUN-TIMUR.COM - Kehadiran Paus Fransiskus ke Indonesia tahun 2024 merupakan sebuah kunjungan kenegaraan dan pastoral dalam kapasitas sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia dan kepala negara Vatikan.

Kunjungan di Jakarta dilaksanakan tanggal 3 - 6 September 2024 yang merupakan sebuah peristiwa sangat penting dan bersejarah dan bukan sekadar kunjungan diplomatik atau pastoral biasa, tetapi sebuah momentum yang membawa pesan sangat kuat tentang persaudaraan dan moderasi dalam konteks global.

Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, menjadi latar yang unik dan menarik bagi kunjungan bersejarah ini.

Jorge Maria Kardinal Bergoglio, yang saat ini Paus Fransiskus, berusaha mengabdi kepada Gereja untuk memprioritaskan persaudaraan semesta.

Ungkapan ini merupakan cita-cita ketika masuk SJ dan menjadi seorang imam yang menggarisbawahi akan iman kepada Allah, yang dicintai Santo Fransiskus Assisi dan sangat dihormati Santo Ignatius Loyola yang menjadi guru dalam melayani Umat Argentina dan seluruh dunia.

Pelayanan melampaui batas kerangka kerasulan melalui kerendahan hati, kesadaran bakti dan tekad paguyuban dengan siapa pun yang berkehendak baik.

Pelayanan terlihat dalam ungkapan hati yang menyapa dan merangkul siapa pun juga, termasuk yang mengkritisi di berbagai penjuru umat manusia.

Perlindungan, Partisipasi dan Pembelaan

Paus menjadi Abdi Perkembangan Hati melalui berbagai misi, yaitu: mendampingi rakyat tersisih di ujung Masyarakat; menyadari spirit ekologis melalui bakti suci menyambut Rumah bagi Tuhan yang ingin berdiam dalam Tubuh dan Darah manusiawi.

Komitmen pada persaudaraan dan solidaritas universal; perlindungan pada anak dan dewasa rentan; penghargaan pada ‘beragama’, kesetaraan, dan partisipasi; pembelaan pada para migran, pengungsi, dan perantau; dan good governance dalam Gereja Katolik

Kunjungan Paus Fransiskus dimaknai sebagai simbol persahabatan dan dialog antarumat beragama di Indonesia melalui tema Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia, yaitu: Iman, Persaudaraan, dan Belarasa (Faith, Fraternity, Compassion).

Kunjungan dimaknai sebagai penghormatan kepada bangsa Indonesia yang dapat menjaga persaudaraan atas keberagaman yang ada yakni keberadaan agama, suku, ras, budaya, dan lainnya.

Sebagai Kepala Negara Vatikan, negara paling kecil di dunia yang berada di jantung kota Roma, kunjungan apostolik Paus menegaskan aspek penting dan strategis lain dalam hubungan bilateral Indonesia-Vatikan dan upaya merawat persahabatan dan persaudaraan dalam berbagai aspek yang luas.

Bahwa relasi persaudaraan sesama umat beragama merupakan aspek penting dan strategis yang perlu terus dipupuk, dirawat, dan dibina di tengah dinamika kehidupan dunia yang terus mengglobal dengan ditaburi hedonisme dan konsumerisme.
 
Keberagaman dan Toleransi

Kunjungan Paus memiliki arti dalam level dunia di mana Indonesia sangat dikenal sebagai miniatur keberagaman dan toleransi.

Rakyat Indonesia beraneka suku, agama, ras, antar golongan bertebaran di hampir seantero negeri dan sangat kaya raya sumber daya alam.

Negeri dengan relasi sosial keagamaan masih terjaga baik meski kerap diganggu tindakan intoleran namun segera diatasi pemerintah, aparat hukum, tokoh agama dan masyarakat.

Paus maupun Jokowi sungguh telah mempunyai kesamaan dalam persepsi bahwa saling mengunjungi dan menyapa sesama pemimpin negara dengan hati tulus di hadapan umat dan masyarakat.

Sebuah pembelajaran bernilai di tengah kehidupan sosial yang ditaburi aneka perang, konflik antar-etnis di berbagai belahan dunia, dan ancaman terhadap global warming hingga menyusul pengelolaan sumber daya alam yang tidak memperhitungkan daya dukung alam serta lingkungan yang merupakan ibu bumi bersama.

Paus hendak meneruskan tradisi kunjungan apostolik seperti para Paus terdahulu, di mana telah terdokumentasi bahwa Paus Fransiskus adalah Paus ketiga dalam sejarah kepausan yang melakukan kunjungan apostolik di Indonesia.

Pertama adalah Paus Santo Paulus VI yang berkunjung pada 3-4 Desember 1970.

Sembilan belas tahun kemudian, Paus Santo Yohanes Paulus II berkunjung ke Indonesia pada 9-14 Oktober 1989. Kemudian, setelah 35 tahun, Paus Fransiskus melakukan kunjungan apostolik ke Indonesia.

Perdamaian, Keadilan Sosial dan HAM

Paus Fransiskus sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik, memiliki komitmen yang tinggi dalam membangun kerukunan antar umat beragama, khususnya antara umat Islam dengan Katolik.

Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Dr. Ahmed Al-Tayep telah menandatangani Deklarasi Abu Dhabi tentang human fraternity.

Dokumen Abu Dhabi itu tidak hanya menjadi pernyataan di atas kertas semata, namun telah menjadi rujukan, landasan, dan inspirasi gerakan perdamaian dan persahabatan antar umat beragama.

Dalam konteks Indonesia, kunjungan ini mempunyai dampak yang luas, yang tidak hanya bagi umat Katolik tetapi juga bagi masyarakat umum.

Paus Fransiskus telah mengangkat isu-isu penting, seperti: perdamaian, keadilan sosial, dan hak asasi manusia, yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai negara pluralistik dengan beraneka ragam agama, budaya, adat, etnis, suku, bahasa dan masih banyak yang lain.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai teladan dalam hal keberagaman dan toleransi di mata dunia.

Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia ini tidak hanya mempererat hubungan antara Vatikan dan Indonesia, tetapi juga telah menjadi simbol pengakuan atas kemampuan Indonesia dalam menjaga kerukunan dalam keberagaman.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan warga negara religius sehingga bangsa yang hidup sebagai sesama saudara dengan segala macam keragaman.

Buah yang dihasilkan adalah bela rasa, solidaritas antar sesama warga bangsa dalam perjalanan menuju cita-cita kemerdekaan.

Paus telah dijadwalkan untuk bertemu dengan para pemimpin agama dari berbagai keyakinan, termasuk mengunjungi Masjid Istiqlal melalui Terowongan Silaturahim.

Hal ini semakin menegaskan perlunya dialog dan kerja sama lintas agama dalam menjaga perdamaian dunia. Sebuah pesan sangat relevan di tengah meningkatnya ketegangan global.

Pesan Moral dan Harapan

Kehadiran Paus mengajak umat Kristiani untuk menyadari tugas dan tanggung jawab yang merupakan bagian tak terpisahkan sebagai warga negara.

Keputusan Paus datang dan menyapa langsung umat Kristiani dan masyarakat Indonesia dalam Misa di Gelora Bung Karno (GBK) merupakan sebuah penghormatan dan penghargaan besar sebagai pemimpin umat Katolik sedunia dan kepala negara meskipun keterbatasan akan kesehatan dan usia.

Kunjungan Paus merupakan persahabatan dan dialog melalui pesan moral, kabar gembira, dan meningkatkan kehidupan damai di antara masyarakat Indonesia dan dunia.

Kunjungan diharapkan juga memperkenalkan kepada dunia tentang Indonesia sebagai negeri yang majemuk, berbeda agama dan keyakinan, namun tetap hidup dalam kerukunan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved