Opini
Arus Balik Kebudayaan: Mitos dan Logos
Jawaban dari pertanyaan sederhana di atas adalah bahan perenungan tentang kesadaran.
Banyak orang yang mengira mitologi sama dengan dongeng, padahal dongeng hanyalah satu bentuk mitologi.
Bahkan tidak sedikit yang menganggap mitologi sebagai cerita bohong; takhayyul dan khurafat. Padahal, mitologi bukanlah omong kosong serupa desas-desus atau gosip.
Mitologi adalah cerita dan kisah yang menyejarah dalam memori kolektif sebuah masyarakat-bangsa.
Mitologi dapat pula disebut sebagai cara manusia di masa lalu menerjemahkan informasi-informasi terkait pengenalan diri sejati (Tuhan) dan penciptaan.
Mitologi hendak menyingkap rahasia asal muasal dan hakikat di balik fenomena, menggunakan gaya bahasa sastrawi yang penuh kata-kata kiasan (majas).
Majas adalah perumpamaan-perumpamaan sastrawi yang memanfaatkan perangkat-perangkat indrawi (materi) dan khayali (imajinasi).
Bahan-bahan penyusun kisah mitologis adalah metafora flora dan fauna dan personifikasi benda-benda langit dan gejala-gejala alam.
Personifikasi menampilkan sosok imajiner dewa-dewa yang memiliki kekuatan supranatural.
Mitologi adalah tradisi spiritual yang berkembang lewat sastra lisan dan bertahan sangat lama.
Penghormatan dan penghargaan (pemujaan) terhadap entitas alam multidimensi (kosmologi) berkembang lewat tradisi ini.
Tuhan dalam mitologi hadir dalam manifestasi kemakhlukan, pancaran ketuhanan itu nyata di bumi.
Mengapa sastra (fiksi) menjadi jembatan menyingkap mitos? Sebab, bahasa logos/ilmiah (non-fiksi) seringkali tidak mampu menampung pengalaman spiritual-ruhani.
Tradisi ilmiah selalu menghendaki kebenaran objektif yang dapat diamati dan dianalisis.
Sedangkan tidak semua realitas dapat diamati dan dianalisis. Sebab, misteri di dalam diri manusia memang hanya dapat dialami lewat pengalaman intesubjektif yang bersifat sangat personal (pengenalan diri).
Sastra melalui mitologi adalah media yang paling memungkinkan untuk menjembatani rahasia Ilahi, agar dapat didaki oleh akal budi para pelancong ruhani dan pencari jati diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/M-Fadlan-L-Nasurung-Yayasan-Nalarasa-61.jpg)