Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Arus Balik Kebudayaan: Rasa, Karsa, dan Sastra

Lukisan-lukisan purba di gua-gua prasejarah sebenarnya terdapat diberbagai kawasan jelajah maritim Nusantara.

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
M Fadlan L Nasurung - Yayasan Nalarasa 

Oleh: M Fadlan L Nasurung

Yayasan Nalarasa

TRIBUN-TIMUR.COM - Baru-baru ini sebuah penelitian arkeologis di Leang (Gua) Karampuang, Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mengungkap jejak seni lukis berusia lebih dari 51.000 tahun (menurut penanggalan radiokarbon).

Sebelumnya penelitian-penelitian arkeologis di kawasan Taman Bumi (Geopark) Maros-Pangkep juga telah banyak dilakukan. Temuannya adalah seni figuratif tertua di dunia.

Lukisan-lukisan purba di gua-gua prasejarah sebenarnya terdapat diberbagai kawasan jelajah maritim Nusantara.

Di Indonesia kini, seni lukis di batu gamping itu akan dijumpai di Pulau Sulawesi (Kawasan Karst Maros Pangkep dan Bone, Danau Towuti Luwu Timur dan Gua Karst di Muna Sulawesi Tenggara), Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Sumatra.

Bagaimana mungkin ribuan tahun yang lalu manusia di Sulabessi (Sulawesi) telah memiliki kemampuan melukis di batu gamping (karst)? Bukankah seni lukis dan juga ukir adalah salah satu tinggalan jejak ilmu pengetahuan manusia paling purba?

Rasa dan Karsa

Jika mempelajari ilmu tentang tanda (semiotika), kita mungkin akan dibuat bingung oleh istilah-istilah teknis-teoritik yang menguras pikiran.

Sebab, salah satu kendala memahami ilmu pengetahuan modern adalah konsep dan teori berbahasa asing yang seringkali berjarak dengan alam pikiran manusia lokal.

Salah satu jalan mudah memahami ilmu tanda adalah berbincang dengan para kreator; pelukis, pengukir, desainer busana, desainer grafis, desainer bangunan, animator dan sebagainya, orang-orang yang memiliki keahlian khusus mematerialisasi makna-makna yang dapat ditangkap secara visual.

Coba tanyakan pada mereka bagaimana proses kreatif merancang bangun tampilan-tampilan visual yang estetik.

Hanya saja, kemampuan kreatif memang tidak selalu seiring dengan kemampuan teoritik; orang-orang kreatif tidak selalu mampu menjelaskan bagaimana proses kreatif mereka. Sebab, kreatifitas adalah sesuatu hal dan teori adalah hal yang lain.

Ilmu penciptaan (kreatifitas) adalah potensi dasar pikiran (karsa) manusia yang diperolehnya melalui intuisi (rasa). Penting dipahami, intuisi-rasa berbeda dengan emosi-perasaan (pembahasan terkait ini, akan penulis uraikan di kesempatan yang lain).

Di dalam filsafat kebudayaan Tana Luwu yang berakar pada ajaran pengenalan diri (pappijappu).

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved