Perspektif
Sabar dan Sadar Menghadapi Bencana
padahal belum masuk musim hujan. Jika musim hujan tiba banjir juga terjadi di kota, dan pesisir pantai.
Syamril
Direktur Sekolah Islam Athirah
BELUM selesai penanganan banjir di Luwu Sulsel, muncul lagi banjir bandang di Gunung Marapi Sumbar.
Padahal belum masuk musim hujan. Jika musim hujan tiba banjir juga terjadi di kota, dan pesisir pantai.
Banjir telah menjadi fenomena tahunan di Indonesia. Apakah ini bencana alam, atau bencana manusia.
Bencana alam murni karena fenomena alam. Bencana manusia terjadi karena ulah manusia yang merusak alam.
Kejadian banjir di Luwu diduga karena penggundulan hutan yang terjadi secara meluas untuk pertambangan dan perkebunan.
Alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan, didahului dengan penebangan pohon.
Juga pembukaan lahan untuk pertambangan secara terbuka. Sebelum mengambil mineral di perut bumi terlebih dahulu pohon di atasnya ditebang.
Melihat kondisi yang ada banjir yang terjadi bukan lagi murni bencana alam.
Sudah ada campur tangan manusia yang merusak alam. Bagaimana menghadapinya?
Dian Cahyadi, akademisi dari Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar mengatakan "Jika kita melihat bencana selalu dengan sabar. Mestinya, melihatnya dengan sadar".
Dua kata kunci yang disampaikan yaitu sabar dan sadar.
Sabar dalam menghadapi musibah, mengutip kata Aa Gym, maka kita akan mampu HHN: hadapi, hayati, nikmati.
Mampu menghadapi musibah dengan jiwa dan raga yang tetap stabil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Syamril-Direktur-Sekolah-Islam-Athirah-201.jpg)