Opini
Perpuluhan versus 2,5 Persen
Buntut dari pernyataan kontroversi Sang Pendeta, Pengacara Senior, Farhat Abbas bahkan telah melaporkan yang bersangkutan ke Polda Motro Jaya, Jakarta
Oleh: Dr Ilham Kadir, MA
Alumni Pendidikan Kader Ulama BAZNAS RI, Pimpinan BAZNAS Enrekang.
Untuk kesekian kalinya, Pendeta Gilbert Lumaindong kembali menimbulkan pernyataan kontroversi dengan menyenggol salah satu dari lima pilar ajaran paling esensi dalam Islam, zakat.
Buntut dari pernyataan kontroversi Sang Pendeta, Pengacara Senior, Farhat Abbas bahkan telah melaporkan yang bersangkutan ke Polda Motro Jaya, Jakarta, Kamis, (18/4/2024) dengan dugaan penistaan agama.
Sebelum itu, Ketua Forum Arimatea Sulawesi Selatan, Jumzar Rachman, lebih awal melaporkan Pendeta Gilbert Lumoindong, dalam kasus dugaan penistaan agama, ke Polrestabes Makassar, Senin sore, 14 April 2024.
Dalam suasana Syawal usai Lebaran Idul Fitri 1445 Hijriah ini, video khotbah berisi komparasi 'perpuluhan' bagi umat Kristen dan dan kadar zakat 2,5 persen bagi umat Islam mendadak viral, jadi topik diskusi berbagai tempat, dari masjid, pasar, kantor, sekolah, warkop, kafe hingga ke kamar tidur.
Sebagai akademisi yang terjun sebagai praktisi filantropi islami, terutama zakat, beberapa kali saya diminta menulis tanggapan terkait pernyataan Pendeta Gilbert tersebut.
Walaupun saya perhatikan sampai detik ini sudah banyak klarifikasi muncul dari sesama Gembala di platform media sosial terkait kebijakan perpuluhan yang dianggap sudah tidak relevan lagi.
Namun sebelum itu, untuk menelaah sejauhmana kemampuan literasi zakat Sang Pendeta, berikut saya turunkan petikan khotbahnya di depan para jemaatnya!
"Kita tuh kadang kala kurang bersyukur. Kristen tuh enak loh ibadahnya cuma seminggu sekali saudara sepupu kita lima kali. Kenapa kita kebaktian seminggu sekali? Tahu enggak kenapa? Karena bayarnya 10 persen.
Itu berhubungan saudara-saudara! Makanya saya tidak pernah tertarik perdebatan tentang perpuluhan.
Orang kalau enggak mau bayar perpuluhan, enggak apa-apa. Semua hamba-hamba Tuhan yang bilang enggak usah bayar perpuluhan, enggak apa-apa. Bayar 2,5 persen.
Enggak usah 10 persen, bayar 2,5 persen tapi sembahyangnya 5 kali sehari. Iya dong? Enak aja udah cuman 2,5 persen mau , seminggu sekali, beda kelas…dari mana-mana masuk gereja langsung masuk.
Kita orang Islam diajarin bersih sebelum sembahyang, cuci semuanya. Saya bilang, Lu 2,5 persen, Gua 10 persen. Bukan berarti Gua Jorok, disucikan oleh darah Yesus".
Narasi yang diutarakan Pendeta Gilbert Lumaindong tersebut menunjukkan kedangkalan pemahamannya terkait literasi zakat yang pada ujungnya menimbulkan beberapa masalah yang penting untuk dijelaskan, agar dapat dimengerti dari dua belah pihak, Kristen dan Islam.
| Garis Merah yang Terlampaui, Penangkapan Pemimpin Negara Mengancam Tatanan Dunia |
|
|---|
| Haji 2024 Sukses, Menteri Jadi Tersangka: Di Mana Letak Keadilan? |
|
|---|
| Menggugat Relativisme: Antara Netralitas Palsu dan Pelumpuhan Keberpihakan Moral |
|
|---|
| Ketika Likes Lebih Penting dari Nyawa: Tantangan Promosi Kesehatan di Era Viral |
|
|---|
| Luwu Raya: Antara Janji Sejarah, Keadilan Ekonomi dan Kedaulatan Wilayah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dr-Ilham-Kadir-MA-Sekretaris-Umum-MUI-Enrekang-7.jpg)