Opini
Ramadan dan Kesalehan Literasi Digital
Euforia Ramdan yang notabene ditandai dengan kedekatan umat Islam dengan ajaran agamanya menjadi pemicu peningkatan ini.
Editor:
Sudirman
Pertama, mengajak diri untuk membatasi bicara.
Mengutip pesan Qurasih Shihab dalam salah satu podcast, “jangan berbicara menyangkut apa yang engkau tidak diketahui, jangan semua yang engkau tahu kamu bicarakan, jika ada orang lain yang bisa bicara, diamlah...”.
Kedua, cerdas dalam memilih rujukan keagamaan serta membiasakan diri untuk terlebih dahulu menyaring sebelum menyebarkan konten dakwah di media sosial.
Meminjam istilah Gus Nadir ‘pentingnya saring sebelum sharing’.
Pertautan dua aspek inilah yang akan melahirkan kesalehan literasi digital di bulan Ramadan. Wallahua’lam bi al-Shawab.
Berita Terkait: #Opini
| Merawat Kemerdekaan di Tengah Krisis Ekologis |
|
|---|
| Tanaman Jungrahab Kalimantan: Dari Tradisi ke Potensi Antiinflamasi |
|
|---|
| Mengapa Harmonisasi Pembangunan Daerah Harus Melibatkan Universitas |
|
|---|
| Hukum yang Hidup dalam Peraturan Daerah |
|
|---|
| Menunaikan Komitmen Moral sang Proklamator Adalah wujud Amal Jariah Presiden Prabowo Subianto |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/MuhRizaldi-Alumni-UIN-Alauddin-Makassar-8.jpg)