Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kilas Tokyo

Visi yang Tidak Mudah

Yakni sebuah masyarakat berbasis eknologi terintegrasi merata disemua lapisan, juga bisa menyelesaikan masalah sosial secara cerdas.

Editor: Sudirman
Dok Pribadi
Dr M Zulkifli Mochtar ST MEng, pengasuh tetap Kolom Kilas Tokyo setiap Sabtu 

Oleh: M. Zulkifli Mochtar

Sebelum Pandemi Covid-19 menyebari dunia, Perdana Menteri Jepang terdahulu Shinzo Abe pernah memproklamirkan visi Jepang ingin menjadi negara pertama menuju ke Society 5.0.

Yakni sebuah masyarakat berbasis eknologi terintegrasi merata disemua lapisan, juga bisa menyelesaikan masalah sosial secara cerdas.

Sebelum Society 5.0 terdapat versi sebelumnya yaitu Society 1.0 (Masyarakat berburu), Society 2.0 (Masyarakat bertani), Society 3.0 (Masyarakat Industri) dan Society 4.0 (Masyarakat Informasi).

Bagaimana contoh teknologinya? Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) menjadi kata kuncinya.

AI, sensor, robot akan digunakan melakukan berbagai pekerjaan seperti inspeksi dan perawatan infrastruktur.

Misalnya mobil tanpa sopir hingga anda bisa duduk tenang santai dengan keluarga karena sudah disopiri secara automatic.

Atau perangkat perangkat elektronik akan beroperasi otomatis atau off sendirinya jika sudah tidak terpakai. Dan banyak lagi.

Untuk itu, Nikkei Asian Review ditahun 2020 melaporkan, untuk itu pemerintah Jepang berambisi harus mencetak 250 ribu lulusan yang expert AI setiap tahun dari berbagai bidang.

Beberapa tahun setelah visi dicanangkan, bagaimana negara ini berubah? Sudah terbentuk kementerian khusus Digitalisasi.

Sektor ini terasa makin dipacu, sedikit berbeda dengan situasi sebelumnya.

Startup berlahiran, registrasi apapun kini direkomendasikan untuk melakukannya secara online.

Tapi tidak sedikit kalangan pesimis dengan visi ini.

Tidaklah semudah yang diperkirakan. Ada persoalan kepincangan demografi penduduk Jepang saat ini yang makin didominasi oleh usia tua.

Dari segi jumlah juga terus menurun. Jumlah populasi usia produktif makin mengecil.

Jika kondisi sama berlanjut, diperkirakan populasi Jepang bahkan akan turun hingga dibawah 100 juta penduduk tahun 2053 nanti.

Bahkan ada kemungkinan lebih cepat lagi.

Salah satu efeknya, jumlah siswa menurun, jumlah pelajar Jepang belajar diluar negeri juga makin mengecil.

Akhirnya performance riset juga ikut menurun.

Menyikapi ini, ‘angin baru’ revitalize pendidikan pun berhembus.

Menurut Japan Times, Perdana Menteri Fumio Kishida mengumumkan langkah dan visi kedepannya akan menarik 400.000 foreign student dari berbagai negara ke Jepang setiap tahunnya, sekaligus visi ingin mengirim 500.000 Japanese student ke luar negeri setiap tahun.

Intinya, agar lebih meng-internasionalkan pendidikan tinggi di negara tersebut.

Ya, ada sebuah parameter positif yakni tingginya semangat warga negara asing belajar ke Jepang. Menurut data JASSO, trend sangat berkembang terus, dari sekitar 160 ribu ditahun 2011, setiap tahun trend jumlahnya bertambah terus, hingga mencapai 312 ribu ditahun 2019 sebelum pandemi Covied-19.

Namun saat pandemi menyebari dunia, jumlahnya pun menurun hingga 242 ribu ditahun 2021. Terbanyak berasal dari China, Vietnam, Nepal, Korea Selatan dan Indonesia.

Juga dirasa perlu memperbanyak jumlah wanita bergelut dibidang Science and Engineering.

Menurut data negara maju OECD, persentase wanita Jepang mengambil jurusan ini di universitas hanya 7 persen; salah satu terendah di antara negara anggota.

Dibawah rata rata negara OECD yang 15 persen.

Sebagai langkah mengatasi kesenjangan gender dan kekurangan tenaga kerja, wacana urgensitas menstimulasi lebih banyak wanita bergelut di bidang ini makin menguat.

Menurut laporan Yomiuri Shimbun tahun 2022, reformasi di universitas pun mulai muncul.

Nara Women’s University menjadi universitas wanita pertama membuka fakultas teknik tahun ini.

Universitas Ochanomizu juga berencana mendirikan sebuah Faculty of Transdisciplinary Engineering tahun 2024 nanti.

Beberapa universitas juga mulai memperkenalkan sistem penentuan ‘female student quota’ tes masuk bidang Science and Engineering.

Kekurangan sekitar 790.000 tenaga IT tahun 2030 menurut prediksi Ministry of Economy Trade and Industry diantisipasi dengan memperkuat rekrutmen tenaga professional engineer dari negara asing, terutama dari China, Korea.

Ini satu kesempatan bagus bagi professional professional kita. Kita punya kekuatan besar; 83 juta jiwa atau 33 persen kaum milenial dari total penduduk.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved