Pengamat Nilai Gimik Gibran di Debat Cawapres Jadi Blunder Politik
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Ali Armunanto menilai gimik Gibran saat debat cawapres terkesan membuatnya tak memiliki etika.
Penulis: Renaldi Cahyadi | Editor: Ari Maryadi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Ali Armunanto menilai gimik Gibran Rakabuming Raka saat debat cawapres terkesan membuatnya tak memiliki etika.
Pasalnya cawapres nomor urut 2 itu kembali menggunakan strategi singkatan-singkatan dengan tambahan gimik.
Debat cawapres sendiri berlangsung Minggu, 21 Januari kemarin, tiga cawapres kembali bertemu memaparkan visi misi mereka.
"Saya lihat Gibran kesulitan dengan persoalan ini karena Gibran sepertinya berlindung dibalik istilah-istilah rumit seperti greenflation dan lithium ferro-phosphate (LFP)," katanya saat dihubungi, Selasa (22/1/24).
Menurutnya, akibat kebanyakan gimik, penyampaian Gibran saat debat tak ada yang tersampaikan ke publik.
"Itu justru memposisikan Gibran seperti orang bodoh yang berlindung dibalik teka teki dan istilah-istilah," ungkapnya.
"Kemarin kelihatan bahwa dia tidak punya wawasan sebaik Cak Imin dan Mahfud," tambah dia.
Bahkan dengan berbagai singkatan-singkatan seperti Greenflation dan LFP tentu tidak semua kalangan akan memahami hal tersebut.
Singkatan itu, kata Ali, hanya akan dipahami oleh beberapa kalangan seperti Gibran dan Timnya saja.
"Mungkin seperti itulah anak sekarang, banyak menggunakan istilah-istilah membingungkan dan hanya dipahami oleh kalangannya saja," ujarnya.
Strategi pada debat cawapres sebelumnya, kata Ali, masih digunakan Gibran pada debat kemarin.
Namun, menurut Ali, kali ini penampilan Gibran tidak hanya menggunakan istilah tapi ditambah dengam gimik.
Hal itu membuat Gibran terkesan tidak memiliki etika saat berhadapan dengan lawan debatnya.
"Kesannya dia tengil dan sok tau, seperti anak SMA ikut debat para pakar yang tidak mengerti apa-apa dan hanya menggunakan istilah," kata dia.
Apalagi, kata Ali, istilah-istilah yang dilontarkan oleh Gibran tidak menyentuh ke materi perdebatan kemarin.
Sehingga justru menjadi ajang kuis tebak-tebakan singkatan dan arti dari pertanyaan Gibran.
"Jadi gibran ini cocoknya mungkin jadi presenter politik," jelasnya.
| Unhas Sudah Tetapkan Jadwal WFH, Kuliah Cuma 4 Hari |
|
|---|
| Mei 2026: Pesta Besar Alumni Unhas Segera Dimulai |
|
|---|
| WFH Turunkan Produktivitas, Sosiolog Unhas Ungkap Penyebabnya |
|
|---|
| WFH Berpotensi Ciptakan Long Weekend dan Kesenjangan Sosial |
|
|---|
| Pengamat Adi Culla: Belajar Jarak Jauh Tanpa Kontrol Bisa Jadi Bumerang Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Pengamat-Politik-Universitas-Hasanuddin-Ali-Armunanto-435342.jpg)