Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Citizen Reporter

Dumpi Eja Jejak Kelezatan dan Simbolisme Dalam Tradisi Pernikahan Suku Kajang Bulukumba

Rumah yang menggambarkan gaya hidup masyarakat pada masa lampau yang memiliki nilai-nilai tradisional yang kuat dalam kehidupan sehari-hari

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ansar
citizen reporter
Dumpi Eja, kue tradisional Suku Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. (Foto: Nabila) 

Tradisi 'berebut Dumpi Eja' terus dilestarikan hingga saat ini sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan pernikahan.

Konon, Dumpi Eja dianggap sebagai sesuatu yang 'wajib' dinikmati dalam acara pernikahan adat.

Sebuah kepercayaan yang masih berkembang, terutama bagi mereka yang masih lajang, diharapkan dengan memakan Dumpi Eja dapat segera menemukan "Jodoh".

"Nenek dulu itu sering bilang kalau ke acara perkawinan jangan lupa makan dumpi eja biar cepat juga nikah," kata Anto.

Berat dari kue ini juga bervariasi, tergantung dari besarnya bakupuli (bakul) dan kemampuan yang mempunyai hajatan.
 
Rukaya (65) seorang warga penikmat Dumpi Eja.

Dengan kejelasan yang ia sampaikan, memberikan wawasan tentang ketersediaan dan kesesuaian Dumpi Eja dalam acara pernikahan Suku Kajang

Sebagai hidangan tradisional, kue ini tak hanya menjadi seserahan tetapi juga menjadi favorit bagi para tamu undangan.

Sementara kopi atau teh hangat menjadi pasangan yang ideal bagi kelezatan kue ini, menambah aroma keakraban dalam setiap sajian.

Keberadaan Dumpi Eja yang mudah ditemukan dalam setiap perayaan pernikahan Suku Kajang, menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya sekadar kuliner, tapi juga simbol kebersamaan dan kekayaan budaya yang terus dijaga. (*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved