Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tak Sukses Melulu, Jusuf Kalla Ungkap Deretan Kegagalan Bisnisnya Salah Satunya Soal Telepon

Meski gagal di sektor telekomunikasi, JK bersama saudaranya memikirkan bisnis baru yang punya peluang dan bertahan hingga 100 tahun kedepan.

|
Editor: Ari Maryadi
TRIBUN TIMUR
Jusuf Kalla jadi pembicara Makassar Leadership Summit 2023 di Hotel Claro Jl AP Pettarani Makassar, Selasa (28/11/2023)  

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kejayaan Jusuf Kalla dalam mengelola bisnis keluarga rupanya dibumbui beragam kegagalan.

Dalam perjalannya, JK- begitu ia disapa pernah menemui banyak tantangan.

Semasa hidupnya, JK mengaku pernah menjalankan 35 ragam bisnis 

Mulai dari bisnis otomotif, listrik, pabrik, ternak sapi, hingga tukang cukur.

Untuk merambah ragam bisnis tersebut tentu butuh keberanian seorang pemimpin.

"Hidup ini penuh dengan keputusan, kalau anda tidak punya keputusan ya namanya peragu, peragu mengambil keputusan, leadershipnya kurang," kata JK saat menjadi pembicara Makassar Leadership Summit (LSM) di Hotel Claro Makassar, Jl AP Pettarani, Selasa (28/11/2023).

Mantan Wakil Presiden RI dua periode ini menjelaskan, pada tahun 90an, ia pernah berjaya sebagai penguasa Telkom di Indonesia Timur.

Kala itu, Telkom menjadi usaha telekomunikasi yang digunakan banyak masyarakat.

Bisnis ini juga memberikan keuntungan banyak kepada Kalla Group usai 5 tahun beroperasi.

Sayangnya, mendekati tahun 2000 perkembangan teknologi mulai pesat, telepon genggam tanpa kabel pun lahir pada masa itu.

Hadirnya handphone sebagai alat komunikasi yang baru membuat masyarakat perlahan meninggalkan telepon rumah, bisnis ini pun akhirnya mati.

Padahal, perusahannya sudah mengeluarkan investasi sebesar USD 400 juta untuk menyambung kabel hingga mencakup kawasan Indoneisa Timur.

"Mendekati tahun 2000 sudah mulai muncul handphone. Saya sudah dikasi tahu ini bahaya, ini kesalahan saya, masa kita tinggalkan Indonesia timur, masa berhenti beroperasi, akhirnya (bisnis) telepon  mati," ungkapnya.

"Investasi USD 400 juta habis, orang tidak pake (telepon) lagi, tapi ada hikmahnya, teknologi paling cepat berubah adalah komunikasi, begitu berubah, habis kabel-kabel yang kita pasang tidak ada gunanya," sambungnya.

Meski gagal di sektor telekomunikasi, JK bersama saudaranya memikirkan bisnis baru yang punya peluang dan bertahan hingga 100 tahun kedepan.

Akhirnya, JK memberanikan diri mengambil keputusan untuk menanam saham di PT PLN.

"Setelah diskusi, kita ambil kesimpulan, listrik air, pakai teknologi, investasi besar tapi hasilnya tidak perlu banyak biaya. Bisa bertahan 100 tahun kenapa? Karena mungkin belum ada listrik wireless," ujarnya.

"Yang mengalahkan tadi kabel-kabel yang kita pasang adalah wireless. Kita pasang kabel, tiba-tiba orang pakai telepon yang tidak pakai kabel. Kita bangunan lah listrik dan alhamdulilah jalan," bebernya.

Dalam forum MLS ini, JK berharap agar SDM di Sulawesi bisa melihat peluang besar di masa mendatang.

Ia sangat menginginkan jika pengusaha-pengusaha ternama lahir dari tanah Sulawesi.

"Dari semua pemikiran kita tentang kepemimpinan harus dipraktekkan, bukan hanya didengarkan. Tujuan akhir dari pertemuan ini spirit untuk maju," harapnya. (*)

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved