Opini
Refleksi Hari Santri
Kelahiran Hari Santri pada 2015 silam memang tidak lepas dari fatwa Resolusi Jihad yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Menyelami revolusi society 5.0, tantangan globalisasi setidaknya mendorong semua pihak untuk mengembangkan nilai-nilai santri di tengah-tengah masyarakat, di antara sebagiannya adalah; mandiri, bersahaja, dan moderat.
Pemaknaan santri yang telah mengalami pergeseran -sifat yang menunjukkan bagaimana seseorang mampu menjalankan tradisi santri- pada akhirnya memudahkan pengembangan nilai-nilai santri itu sendiri.
Kemunculan generasi strawberry di era revolusi society 5.0 tidak lepas pula mewarnai dunia santri. Tidak sedikit yang mengkhawatirkan anak-anaknya tidak mampu menjadi kelompok masyarakat yang kuat karena “terisolir” dalam beberapa waktu.
Untungnya, santri merupakan sekelompok orang yang dilatih untuk menguatkan dirinya dengan nilai-nilai kemandirian. Hal ini mempengaruhi kemampuan mereka untuk berpikir, bersikap, dan bertindak, setidaknya untuk hal-hal yang terkait dengan dirinya sendiri.
Sehingga, santri di tengah masyarakat bukanlah generasi yang cenderung menjadi beban sosial dan peradaban. Ketangguhan yang santri peroleh dari dalam “miniatur negara” yang bernama pesantren telah cukup sebagai bekal untuk menghindari stigma generasi strawberry.
Resiliensi santri yang cukup kuat merupakan aset tersendiri bagi bangsa dan negara. Mengingat jumlah santri yang cukup besar di Indonesia, terlebih lagi dengan adanya pergeseran makna santri tadi yang memungkinkan santri berada di mana saja untuk menjadi pendakwah sekaligus transformer peradaban.
Dengan resiliensi ini, santri akan mampu mengokohkan nilai-nilai jihad dalam kehidupan sehari-hari mereka, menjadi garda terdepan dalam kelompok masyarakat untuk merawat bangsa, dan merespon setiap kontestasi yang berkembang sesuai zaman, tentunya dengan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, serta tradisi intelektual ulama.
Agar memiliki risiliensi yang kuat dalam berjihad, santri setidaknya memiliki kompetensi utama, yakni; 1) kemampuan memecahkan masalah (problem solving); 2) kemampuan berpikir kritis (critical thinking); dan 3) memiliki iman dan karakter kualitas premium.
Kesuksesan jihad seorang santri dalam pembangunan bangsa bisa dilihat dari kemampuannya mengkolaborasikan ruang sosial keagamaan dan ruang kebangsaan dan kenegaraan tanpa mengabaikan peran teknologi dan modernitas.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Waris-Ahmad-Ketua-Majlis-Qurra-Wal-Huffaz-Asadiyah-b.jpg)