Opini
Refleksi Hari Santri
Kelahiran Hari Santri pada 2015 silam memang tidak lepas dari fatwa Resolusi Jihad yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari.
Oleh:
Dr H Abdul Waris Ahmad M HI
Dosen IAI As'adiyah Sengkang
TRIBUN-TIMUR.COM - Gaung Jihad Santri Jayakan Negeri terdengar hingga relung pelosok nusantara, menyalakan semangat dan juga ingatan tentang perjuangan para santri di masa peperangan silam.
Kelahiran Hari Santri pada 2015 silam memang tidak lepas dari fatwa Resolusi Jihad yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.
Apresiasi pemerintah ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tertanggal 15 Oktober 2015 tentang Hari Santri.
Fatwa Resolusi Jihad saat itu mewajibkan santri untuk berjihad melawan penjajah yang nyata ada di hadapan mereka. Peran santri di medan perang tidak bisa dinafikan, dengan bermodalkan senjata dan tentu saja taktik perang.
Meski perang melawan penjajah telah usai, namun tugas berjihad belumlah selesai sama sekali. Nilai jihad para santri sekarang ini masih sama besarnya, bahkan jauh lebih berat dari jihad di masa penjajahan. Mereka hanya menghadapi jenis peperangan dan tantangan yang berbeda.
Slogan “ber-otak London Berhati Mekah” memang sudah lama dicetuskan oleh KH Mustain Romly. Namun, maknanya masih terus menggema di kalangan santri hingga sekarang ini.
Tidak hanya di Jombang, namun di seluruh pelosok nusantara. Inilah jihad yang sesungguhnya yang harus mereka tunaikan setelah perang usai, sebagaimana yang tampak dalam simbolisasi logo peringatan Hari Santri 2023.
Makna slogan di atas senada dengan pesan almarhum AGH M Syuaib Nawang (Syaikh Ma’had As’adiyah Sengkang), yakni; 1) kuasai akar pengetahuan agama (bahasa Arab, Ilmu Usul Fikih, Hadis, Ulumul Qur’an, dan lain sebagainya); 2) kuasai bahasa asing; 3) jadilah manusia yang memanusiakan; dan 4) pandailah mengendarai mobil.
Anre gurutta menganalogikan poin keempat sebagai skill atau keterampilan dalam bidang apapun, sehingga mampu mendukung lahirnya santri yang kompeten dalam banyak bidang.
Ranah santri tidak lagi terbatas hanya pada menguasai dan merawat tradisi lama atau pun menguatkan isu-isu lokal. Didikan untuk santri bukan semata-mata mengarahkannya menjadi output pesantren yang mengisi pengajian dari masjid ke masjid ataupun berakhir di taman pendidikan Al-Qur’an.
Namun lebih dari itu, ranah santri telah memasuki tren globalisasi yang pesat. Dengan demikian, mereka bisa merespon setiap isu atau fenomena yang berkembang di masyarakat secara cerdas, tepat, kritis, dan didukung dengan pendekatan agama yang moderat.
Resiliensi Santri
Jika revolusi industry 4.0 melahirkan dunia yang dipenuhi dengan teknologi, maka society 5.0 melahirkan kembali dunia yang memanusiakan manusia dalam menyelesaikan masalah tanpa meninggalkan teknologi. Sebagai santri, mereka dituntut menguasai ilmu agama dan teknologi dalam waktu yang bersamaan. Posisinya hampir sama dengan santri yang menghadapi perang terdahulu, menguasai ilmu agama yang mungkin mudah bagi mereka.
Namun, di sisi lain, harus memiliki kemampuan menaklukkan medan perang di zaman dahulu dan menundukkan kehebatan teknologi di zaman sekarang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Waris-Ahmad-Ketua-Majlis-Qurra-Wal-Huffaz-Asadiyah-b.jpg)