Batik Budaya Gerakan
Rupanya embrio gagasan itu sudah menjadi impian dan cita-cita tokoh bangsa, Soekarno.
Jika membaca, Rustopo dalam bukunya Menjadi Jawa: orang-orang Tionghoa dan kebudayaan Jawa di Surakarta 1895-1998, menerangkan bahwa Go Tik Swan adalah keturunan dari Tjan Sie Ing yaitu seorang pemuka Tionghoa sejak zaman Pakubuwana IX dan X yang mendapat pangkat Luitenant der Chinezen van Surakarta oleh pemerintah kolonial Belanda.
Maka, ketika Sukarno meminta sahabatnya untuk membuat batik Indonesia, ia bukan sembarang pilih orang. Sukarno menginginkan batik baru yang bukan sekadar batik Solo, melainkan juga Yogyakarta, Pekalongan, Lasem, atau Cirebon. Mengapa demikian, inginnya, Ia punya impian besar, bahwa seni batik dan batik itu sendiri adalah Indonesia. Ketika orang ingat batik, lihat batik, dengar batik, maka yang pertama dalam benak siapapun adalah Indonesia.
Sejak itu, pria kelahiran 1931, Go Tik terus bergerak mencari tau karakter yang dimaksud bung Karno, batik Nusantara, Indonesia.
Dalam pencariannya, ia pun menuju Palmera, lalu ziarah ke makam Luar Batang. Perjalannnya lanjut terus ke Cirebon, kemudian ziarah makam Sunan Gunung Jati.
Usai berkunjung didua tempat itu dan ziarah kedua makam, Go Tik pun berlalu, lanjut ke Pekalongan, Demak, dan ziarah ke makam Sunan Kali Jaga. Setelah itu, dia melangkah ke Tuban lalu ziarah ke makam Sunan Bonang dan terakhir kembali ke Surakarta.
Setelah peristiwa perjalan panjang, akhirnya laku langkah Go Tik Swan sudah memiliki gambaran, batik gagasan yang diinginkan, yaitu perpaduan batik klasik dan batik pasisiran, sebuah batik yang digagas bung Karno sangat indah, dengan napas ke-Indonesiaan.
Dari history diatas, bisa dimaknai bahwa gagasan dalam batik akhirnya menjadi sebuah gerakan sosial, bahkan dalam urusan aktifitas formal kerja di kantor pemerintahan, seragam batik menjadi wajib, memiliki hari tertentu.
Timbul tanya, ada apa dengan batik?
Ini menunjukkan, bahwa batik benar-benar tidak hanya menanamkan nilai seni, tetapi juga simbol etos kerja yang diperkuat oleh nilai spiritual, ragam budaya, etnis, suku dan karakter geografis sebagai multi-kulturalisme bangsa yang sangat penting dijaga, dirawat dalam bingkai kenusantaraan, Indonesia.(*)
Selamat Hari Batik Nasional 02 Oktober 2023.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/hasim0324092021.jpg)