Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Batik Budaya Gerakan

Rupanya embrio gagasan itu sudah menjadi impian dan cita-cita tokoh bangsa, Soekarno.

Editor: Muh Hasim Arfah
tribun-timur.com
Anggota Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu Gowa, Juanto Djufri 

Oleh Juanto

PEKAN siang saya menerima pesan singkat di Whatsapp, sebuah surat undangan tugas menuju Solo.

Usai membaca isi surat, gambaran pertama tentang Solo dibenak ini, sebuah tradisi dan sejarah panjang yang menjadi corak wajah Indonesia kelak, yaitu pembatik.

Selain Solo, beberapa wilayah di tanah air juga mulai menghidupkan tradisi membatik.

Bahkan sebenarnya jika ditelisik, Ponorogo, Jawa Timur termasuk salah satu muasal batik tertua ada disana.

Tetapi sebenarnya, dalam konteks Sulawesi Selatan, justeru batik tertua di Nusantara ditemukan berasal dari Tanah Toraja.

Awal mula membatik bukanlah sekadar uliran tinta, melainkan gambaran karakter sebuah budaya dan nilai spiritual.

Tradisi membatik itu secara alamai kemudian menyatu dalam interaksi kehidupan sosial orang-orang di masa lampau, dari leluhur dan turunannya punya nilai histori yang kuat, menautkan peristiwa-peristiwa zaman.

Budaya itu tidaklah dipunyai negara lain, Indonesia satu-satunya bangsa yang memiliki warisan-warisan khas membatik di daerahnya dengan beragam karakter.

Orang-orang lokal inilah yang kemudian menguatkan ciri kebangsaan kita.

Konon sebelum UNESCO menetapkan batik sebagai warisan dunia asal Indonesia, rupanya embrio gagasan itu sudah menjadi impian dan cita-cita tokoh bangsa, Soekarno.

Kala itu, ia dikenal tak hanya cakap sebagai tokoh pendiri bangsa, rupanya juga seorang seniman yang handal.

Soal batik, bung Karno pernah melontarkan gagasannya tentang seni batik Indonesia. Dia ingin kelak, batik menjadi bernilai, berkarakter, sebagai jati diri kebangsaan yang memiliki pesan persatuan dalam bingkai wajah Nusantara Indonesia.

Era itu, bung Karno kemudian meminta sahabatnya, Go Tik alias Go Tik Swan agar menemukan batik yang menggambarkan Indonesia dengan wajah Nusantara.

Dalam catatan sejarah, bung Karno paham tindakannya, memilih sahabatnya itu karena dianggap keturunan keluarga pembatik awal-awal 1955.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved