Opini
Dakwah Islam Humanis
Dakwah sebagai fungsi risalah merupakan suatu proses pembangunan dan perubahan sosial menuju kehidupan yang lebih baik.
Sebab itu, sangat perlu menggagas sebuah paradigma dakwah yang membela kemanusiaan, menyelamatkan umat dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan, atau dapat ditegaskan dakwah yang memanusiakan manusia.
Dakwah yang memanusiakan manusia inilah yang disebut dakwah humanis.
Dakwah humanis menjadi sebuah tuntutan mutlak, terutama melihat fenomena dinamisasi kehidupan manusia yang dewasa ini nyaris menyingkirkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Jika enggan dikatakan, bahwa masyarakat yang hidup di era modernitas saat ini saban hari makin bergerak ke arah materialisme dan hedonisme.
Sehingga makin mengabaikan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang terkandung dalam ajaran agama.
Kecenderungan masyarakat modernis ini tentu harus segera direspon sebagai sebuah masalah baru yang akan mengancam tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan.
Karena itu, dakwah menempati posisi strategis dalam rangka mendidik umat yang memiliki etika dan moralitas keagamaan.
Harus dipahami bahwa, dakwah humanis adalah dakwah yang mencerdaskan dan mencerahkan umat.
Bukan dakwah yang membodohi dan memprovokasi umat, adalah dakwah yang mendidik dan mendewasakan umat.
Bukan menghardik hingga membinasakan umat, adalah dakwah yang merangkul umat bukan memukul umat, adalah dakwah yang mengajak umat pada jalan kebaikan bukan justru mengejek dan menjelek-jelekkan umat.
Dalam konteks masyarakat pluralis, maka dakwah humanis seperti yang telah dijelaskan di atas, sangat penting dilakukan, karena pesan-pesan agama hanya bisa diterima dan dicerna oleh masyarakat dengan baik, jika seorang da’i mampu untuk menerjemahkan pesan-pesan keagamaan dengan cara yang baik pula.
Ketika nilai-nilai yang terkandung dalam teks kitab suci agama didakwahkan, maka seharusnya pesan yang muncul adalah pesan yang humanis.
Karenanya, dakwah Islam humanis mesti dilakukan dengan cara yang ramah bukan marah, sehingga masyarakat yang menjadi objek dakwah dapat mendalami ajaran Islam bukan karena keterpaksaan tetapi karena kegembiraan.
Indonesia sebagai negara penganut ajaran Islam terbesar di dunia yang juga hidup di tengah-tengah masyarakat pluralis, seruan dakwah harus dilakukan dengan penuh hikmah.
Seluruh sikap kebencian terhadap golongan yang lain harus dibuang jauh-jauh dari dalam diri setiap da’i.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/M-Affian-Nasser-Anggota-IKA-PPMBS-Bajo.jpg)