Opini
Tradisi Haji Bawakaraeng Dalam Pusaran Zaman
Masyarakat Nusantara pada mulanya hingga saat ini merupakan masyarakat yang tumbuh dengan beragam adat-istiadat dan nilai-nilai leluhurnya
Menurut beberapa budayawan dan pengamat sejarah Religiutas Sulawesi Selatan, tradisi haji tersebut timbul dari tradisi lisan kisah Syekh yusuf Tuanta Salamaka yang bertolak ke Puncak gunung Bawa Karaeng.
Ia bertemu para wali untuk mendapatkan ilmu kemudian diperintahkanlah ia agar melakukan perjalanan Haji ke kota Makkah.
Ada juga kisah yang mengatakan Datu’ Ri Paggentungang bersama I Lo’mo Ri Antang dan Syekh Yusuf melakukan ijtihad ke Puncak Bawa Karaeng.
Sesampainya di sana Datu’ Ri Paggentungang menyarankan I Lo’mo Ri Antang dan Syekh Yusuf agar melakukan perjalan haji ke kota Makkah.
Mengingat keilmuan mereka berdua sudah memumpuni terlebih lagi usia mereka juga masih muda untuk jauh lebih mengembangkan nilai-nilai keislaman dalam diri mereka.
Sebab pada saat itu Makkah juga sebagai pusat pengetahuan agama Islam.
Atas dasar itulah yang menjadi pedoman dan interprerasi keterwakilan ibadah sehingga tidak sedikit orang yang berasumsi bahawa ritual Haji cukup ke dilaksanakan di Bawa Karaeng saja.
Gunung Bawa Karaeng diartikan “Mulut atau Sabda Tuhan” yang diyakini sebagai tempat suci juga tempat bersemayamnya To Ri A’ra’na atau To Kammayya Kananna.
Senantiasa memelihara kehidupan manusia di bumi dan dialah pemberi segala yang Haq dan batil.
Pandangan itu telah membekas secara kultural hingga turun-temurun dari leluhur manusia Bugis-Makassar.
Khususnya agama lokal bagi masyarakat Bugis-Makassar yakni, agama Patuntung.
Boleh jadi Bawa Karaeng telah menjadi between line (garis antara) yang diinginkan oleh hasrat dari pengetahuan Datu’ Ri Panggentungang dan hasrat pengetahuan yang ada pada I Lo’mo Ri Antang dan Syekh Yusuf.
Pada fase inilah subjek akan mengalami hasrat Liyan (the other) sebuah fenomenologi dalam filsafat untuk mengidentifikasi dan membedakan diri dengan yang lain dalam pengakuan mereka untuk menjadi ada.
Liyan merupakan buah realitas ada yang mengukuhkan keberadaan diri atau pengalaman ada bersama yang lain menjadi simbol bahwa diri juga ada bagi yang lain.
Namun bagi masyarakat awam timbullah beragam pertanyaan, apakah melakukan Haji di Bawa Karaeng sama dengan melaksanakan Haji di tanah haramain (Makkah)? Tentunya tidak.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.