Opini
Melihat Vinicious 'Dihajar' dalam Kampus
Apa yang menimpa Vini dan mahasiswa seharusnya tidak terjadi dalam lingkungan sosial.
Oleh:
Islahuddin Ibrahim
Mahasiswa program sarjana di Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - “Monkey…! Vinicious You’re a monkey, a stupid nigger!, Go take some Banana!.” (Pekikan dari tribun penonton menghujani Vini).
Tidak hanya itu, para penonton yang bersikap rasis kepada Vini, membuat spanduk khusus yang bertuliskan umpatan terhadapnya, dan dibentangkan di beberapa sudut kota.
Bagi penggairah sepak bola, kita mungkin masih akrab perihal kasus rasisme yang dialami oleh salah seorang pemain sepak bola ternama Eropa beberapa minggu lalu.
Akibat deskriminasi terhadapnya, pemain bintang yang bertandang di klub Real Madrid itu sempat memutuskan berhenti bermain di liga tersebut dan memilih untuk mencari ruang aman untuk melanjutkan karirnya.
Sebelumnya, tulisan ini tidak bermaksud untuk membumikan rasisme atau semacamnya, dan juga tidak bermaksud menyalahkan pihak tertentu.
Tulisan ini berfokus pada menguraikan fenomena yang terjadi sebagai wacana reflektif dan sebagai bentuk antisipasi agar kasus yang sama tidak terulang kembali.
Menyoal rasialisme atau rasisme, fenomena ini telah menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga kita, dan ini merupakan persoalan besar yang dapat mengancam keberlanjutan peradaban di negeri ini.
Di Indonesia sendiri kampanye penolakan konflik SARA (Suku, Ras, Agama, Antar Golongan) semestinya digaungkan lebih ketat lagi di Indonesia.
Terlebih lagi, negeri ini mencakup berbagai macam suku, ras, agama dan bangsa. Maka sepatutnya perbedaan itu dibungkus dalam persatuan sebagai upaya untuk menghindari jeratan rasialisme.
Merujuk pada pandangan Homi K. Bhabha dalam studi pascakolonialisme, pada mulanya sikap rasisme dipraktikkan oleh kolonial untuk menjaga batasan hierarki antara penjajah dan terjajah. Batasan inilah yang melegitimasi penjajahan.
Dengan kata lain, penjajah membutuhkan validitas dirinya sebagai golongan superpower yang lebih memiliki segalanya dan lebih maju.
Oleh karena itu, jika sebaliknya kaum terjajah justru yang lebih maju dari penjajah, alhasil legitimasi penjajahan runtuh dan tidak jelas lagi posisi antara siapa penjajah dan siapa yang dijajah.
Maka sikap penjajah demi menjaga batasan tersebut adalah dengan selalu menggaungkan wacana rasisme dan stereotipe sebagai wacana yang tetap menjaga batasan kolonialisme.
Selain daripada ihwal rasisme yang dialami oleh Vini, sebenarnya terdapat pula kasus yang sama, uniknya kasus ini terjadi dalam institusi pendidikan tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Islahuddin-Ibrahim-Mahasiswa-program-sarjana-di-Makassar-bg.jpg)