Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

Seputar Mudik

Selain pemudik, barangkali pengendara-pengendara khususnya roda empat itu punya tujuan dagang atau tujuan -tujuan lain.

Editor: Hasriyani Latif
DOK TRIBUN TIMUR
Abdul Karim ketua Dewas LAPAR Sulsel. Abdul Karim penulis tetap rubrik Klakson di Tribun Timur. 

Mengapa pencitraan? Sebab, jalanan rusak bukan peristiwa baru, bukan hanya lebaran kali ini jalanan rusak itu kita temukan.

Dari lebaran ke lebaran jalanan rusak menjadi pemandangan nyata. Artinya, masalah seperti itu telah lama terjadi tak diatasi. Itupun terjadi dari pemilu ke pemilu.

Maka ketika baliho-baliho politik terbit, kita kurang yakin dengan kehendak baik mereka mensejahterahkan warga.

Pemandangan lain saat mudik, adalah masjid-masjid disepanjang jalan, tampak megah-megah dan modern. Masjid-masjid dengan gaya lama, direnovasi dengan arsitektur modern ala timur tengah.

Ketika kita mampir sholat didalamnya, nuansa masjid ala timur tengah kian terasa; karpet tebal yang empuk, lantai keramik yang kemilau, hingga lampu bohlam yang memancarkan cahaya dari segala arah, dan tak ketinggalan pula AC pendingin yang sejuk.

Tetapi diluar masjid, di pinggir jalan, dibibir selokan, di bantaran sungai, atau dipinggir jalan dekat sawah dan kebun—kita lihat sampah limbah rumah tangga menumpuk dan membusuk. Orang-orang membuang sampah disana.

Sialnya, pemerintah setempat tampaknya tak bereaksi. Disini, kontradiksi terjadi; masjid megah dengan simbol kesucian hadir bersamaan dengan tumpukan sampah yang membusuk.

Permasalahan sampah dalam satu dasawarsa terakhir memang menjadi masalah yang tak dipermasalahkan. Bila pemerintah tak mengatasi itu, maka kedepan sampah akan menjadi masalah serius didaerah-daerah.

Pemerintah daerah seharusnya memikirkan untuk merancang pembangunan pembuangan sampah warga.

Mengapa sampah tumpah ruah? Entahlah. Tetapi barangkali produksi sampah tumpah-ruah lantaran penduduk kini tersebar dimana-mana dengan tingkat konsumsi yang tinggi.

Selain itu, volume sampah yang meninggi lantaran hampir semua barang-barang konsumsi kini diproduksi dengan kemasan plastik.

Bahkan, ikan-ikan segar di pasar pun dibungkus dengan kantong plastik. Berbeda diera 1980-an dan 1990-an silam, ikan segar dipasar dibungkus daun pisang atau daun jati.

Saat ia menjadi sampah, dengan mudah dedaunan itu melebur ke dalam tanah. Berbeda dengan plastik-plastik, ia tak sirnah oleh tanah.

Begitulah kisah seputar mudik. Banyak kisah tentangnya, selain reuni. Tetapi adapula kisah-kisah ironis, ambigu, dan kontras, diantaranya; tentang kepadatan kendaraan, baliho-baliho disekitar jalanan yang rusak, masjid-masjid megah suci yang disertai pemandangan sampah menumpuk yang membusuk. Busuklah peradaban kita.(*)

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved