Lebaran Idul Fitri 1444 H
Kaprodi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar Beberkan 3 Cara Tentukan Awal Bulan
Ketua Prodi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar, Fatmawati Hilal menjelaskan ada 3 metode dalam menentukan awal bulan qamariyah..
Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Sukmawati Ibrahim
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Lebaran Idulfitri 1444 H semakin dekat.
Pakar Astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan potensi terjadinya perbedaan waktu lebaran.
Hal itu disebabkan perbedaan kriteria penentuan awal bulan Hijriyah.
Sebelumnya, Muhammadiyah sudah menentukan lebaran Idulfitri 1444 H jatuh pada 21 April 2023 mendatang.
Sementara itu, Pemerintah masih menanti pemantauan hilal dengan meneropong ke langit.
Ketua Program Studi (Prodi) Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Fatmawati Hilal menjelaskan ada 3 metode dalam menentukan awal bulan qamariyah.
"Pertama, metode Wujudul Hilal yang lebih dikenal dengan metode Hisab (perhitungan)," ujar Fatmawati Hilal, Minggu (16/4/2023)
"Bagi penganut metode ini, berapapun tinggi hilalnya jika sudah di atas ufuk maka sudah terhitung bulan baru," sambungnya.
Metode Wujudul Hilal biasanya digunakan Muhammadiyah untuk menentukan awal bulan.
Berikutnya ada metode Rukyatul Hilal.
"Melihat hilal secara langsung di lapangan pada hari ke-29 (malam ke 30) dari bulan berjalan," kata Ketua Prodi Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar ini.
"Apabila hilal terlihat, maka pada malam itu dimulai tanggl 1 bagi bagi bulan baru atas dasar rukyatul hilal," lanjutnya.
Sebaliknya, Jika hilal tidak dapat terlihat maka bulan tersebut digenapkan menjadi 30 hari.
Metode terakhir ialah Imkanur Rukyah.
Dijelaskan, metode Imkanur Rukyah merupakan cara yang digunakan pemerintah sebagai salah satu upaya menyatukan metode ijtihad dari penganut hisab dan rukyat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ketua-prodi-ilmu-falak-fakultas-syariah-dan-hukum-uin-alauddin-makassar-fatmawati-hilal.jpg)