Klakson
Aco dan Pemilu
Barangkali karena itu semua, politik yang bergerak tak pernah menawarkan apa-apa selain uang.
Dan saat wacana “proporsional tertutup” menggelayut, Aco tak faham. Begitupun saat wacana “tunda pemilu” menyeruak, Aco dan keluarganya tak menyatakan sikap; entah setuju atau tak setuju.
Yang ia tahu bahwa hari ini, mesti ada uang receh dikantong celana kusamnya untuk rokok dan jajan ala kadarnya.
Pemilu kita memang kurang peka. Ia seolah kehilangan aspek humanitasnya. Pemilu memang menjunjung tinggi hak pilih.
Tetapi pemilu tak mau campur tangan dengan nasib buruk warga pasca pencoblosan. Pemilu kita tuna rungu, tuna wicara, bahkan tuna hati.
Mengapa begitu? Mungkin karena politik kita dirancang orang terbatas diruang terbatas. Ia dirancang dalam ruang yag jauh dari hiruk pikuk.
Ia dibicarakan disebuah ceruk yang terbatas dari jangkauan mata orang ramai. Disitu, strategi politik didiskusikan.
Bahkan, taktik dan rencana culas dibahas diruang sunyi itu. Tiada yang menyimak selain segelintir mereka, malaikat, dan Tuhan. Semua dirumuskan ditengah sunyi yang senyap.
Dengan begitu, politik disini pada mulanya tak banyak bersentuhan dengan khalayak. Ia bukan urusan kaum banyak. Ia hanya urusan segelintir orang. Aco dan keluarganya tak ada didalamnya.
Barangkali karena itu semua, politik yang bergerak tak pernah menawarkan apa-apa selain uang. Politik menjunjung uang, tiada yang lain.
Padahal, seharusnya politik menawarkan skema detail rencana perubahan yang hendak diwujudkannya kelak. Politik dan pemilu harusnya mengupayakan agar Aco dan keluarganya terbebas dari jeratan kemiskinan akut.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/abdul-karim-majelis-demokrasi-humaniora.jpg)