Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

Aco dan Pemilu

Barangkali karena itu semua, politik yang bergerak tak pernah menawarkan apa-apa selain uang.

Editor: Hasriyani Latif
Tribun Timur
Ketua Dewas LAPAR Sulsel/Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora Abdul Karim. Abdul Karim penulis tetap rubrik Klakson Tribun Timur. 

Oleh:
Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel
Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora

TRIBUN-TIMUR.COM - Apa arti pemilu bagi Aco, seorang remaja tuna wicara di kota ramai ini?

Apa makna pemilu bagi diri remaja terbatas itu? Setiap waktu ia tak kuasa menyuarakan aspirasinya.

Tetapi Aco adalah warga negara yang sesungguhnya membutuhkan negara. Namun negara barangkali tak memerlukannya.

Alih-alih membutuhkannya, negara melalui aparatusnya malah pernah menggelandang Aco dan rekannya.

Ia digelandang petugas Satpol PP disuatu siang lantaran Aco dan rekannya memerankan “pak Ogah” dipersimpangan jalan utama.

Mereka tak mengerti ketentuan, bahwa “pak ogah” tak boleh hadir dikota megah ini. Aco dan rekannya yang normal fisik diboyong dengan truck ke kantor pamong praja. Disana, mereka diinterogasi lantas di evakuasi ke penampungan Dinas Sosial.

Lantas apa arti pemilu bagi Aco dan rekannya itu?

Aco tak faham itu. Yang ia tahu bahwa uang receh lima ratus rupiah, seribu rupiah dan dua ribu rupiah begitu berarti.

Karenanya, mereka mengejar uang receh itu dengan membantu pengendara roda empat menyeberangi persimpangan jalan. Dengan celana dan baju kotornya, ia berdiri ditengah kepadatan arus lalu lintas yang melintas.

Aco dan keluarganya tentu punya hak pilih di setiap pemilu. Suaranya tersalurkan, namun tak terdengar.

Mungkin demokrasi kita memang menderita tuna rungu. Demokrasi kita tuli, dan kelihatannya rakyat, terutama rakyat pandai-membisu pula.

Maka kian menderitalah rakyat semisal Aco dan keluarganya. Penderitaan itu ia terima sebagai takdir. Bukan karena kelalaian struktur pengatur dan pengelola kebijakan yang dipilih sekali lima tahun itu.

Ketika wacana “tiga periode” menggelinding, Aco tak pusing. Ia tak faham bahwa orang-orang diatas sana sedang bertarung memperjuangkan keinginannya.

Ia tak mengerti bahwa politik menjadi arus pintas untuk buas. Ia tak sadar bahwa politik tak pernah menyentuh aspirasinya yang dungu.

Dan saat wacana “proporsional tertutup” menggelayut, Aco tak faham. Begitupun saat wacana “tunda pemilu” menyeruak, Aco dan keluarganya tak menyatakan sikap; entah setuju atau tak setuju.

Yang ia tahu bahwa hari ini, mesti ada uang receh dikantong celana kusamnya untuk rokok dan jajan ala kadarnya.

Pemilu kita memang kurang peka. Ia seolah kehilangan aspek humanitasnya. Pemilu memang menjunjung tinggi hak pilih.

Tetapi pemilu tak mau campur tangan dengan nasib buruk warga pasca pencoblosan. Pemilu kita tuna rungu, tuna wicara, bahkan tuna hati.

Mengapa begitu? Mungkin karena politik kita dirancang orang terbatas diruang terbatas. Ia dirancang dalam ruang yag jauh dari hiruk pikuk.

Ia dibicarakan disebuah ceruk yang terbatas dari jangkauan mata orang ramai. Disitu, strategi politik didiskusikan.

Bahkan, taktik dan rencana culas dibahas diruang sunyi itu. Tiada yang menyimak selain segelintir mereka, malaikat, dan Tuhan. Semua dirumuskan ditengah sunyi yang senyap.

Dengan begitu, politik disini pada mulanya tak banyak bersentuhan dengan khalayak. Ia bukan urusan kaum banyak. Ia hanya urusan segelintir orang. Aco dan keluarganya tak ada didalamnya.

Barangkali karena itu semua, politik yang bergerak tak pernah menawarkan apa-apa selain uang. Politik menjunjung uang, tiada yang lain.

Padahal, seharusnya politik menawarkan skema detail rencana perubahan yang hendak diwujudkannya kelak. Politik dan pemilu harusnya mengupayakan agar Aco dan keluarganya terbebas dari jeratan kemiskinan akut.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved