Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Menggugat Ketetapan Hari Pers Nasional

Mungkin kita sudah mengetahui bahwa terdapat dua hari yang sangat penting dalam sejarah keindonesiaan pada bulan Ferbruari

Editor: Sudirman
Dwi Rezki Hardianto
Dwi Rezki Hardianto, Dosen Sastra di Universitas Sawerigading Makassar 

Oleh: Dwi Rezki Hardianto

Dosen Sastra di Universitas Sawerigading Makassar

Mungkin kita sudah mengetahui bahwa terdapat dua hari yang sangat penting dalam sejarah keindonesiaan pada bulan Ferbruari, yaitu hari kelahiran Pramoedya Ananta Toer dan hari Pers Nasional.

Pram lahir pada 6 Februari 1925 dan Hari Pers Nasional jatuh pada tanggal 9 Februari yang dicomot dari hari kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 9 Februari 1946.

Hari Pers Nasional itu ditetapkan pada masa Orde Baru melalui Kepres No. 5 tahun 1985.

Akan tetapi, penetapan itu tentu menjadi sebuah permasalahan ketika kita berkelana dan berdialog dengan sejarah keberadaan pers (Nasional) di Indonesia.

Lalu apa hubungan Pram dengan keberadaan Hari Pers Nasional?

Menggugat Melalui Karya Sastra

Bagi saya, Pram adalah salah satu sosok yang menggugat keberadaan beberapa narasi historis termasuk—Hari Pers Nasional itu melalui beberapa karyanya.

Hal itu dapat disimak di dalam Roman tetralogi buru, khususnya Jejak Langkah (1985) dan Novel Sang Pemula (1985). Kedua karya itu pernah dilarang secara hukum melalui keputusan Jaksa Agung pada tahun yang sama.

Melalui kedua karya itu, memang secara eksplisit hal yang digugat oleh Pram adalah sejarah gerakan kita dalam melawan kolonialisme belanda.

Ketetapan tentang awal mula gerakan nasional keindonesiaan dan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei 1908 yang dimotori oleh Budi Utomo adalah kesalahan yang fatal.

Pertama, Budi Utomo hanyalah organisasi yang di dalamnya dimotori oleh satu etnis saja. Kedua, organisasi itu dikuasai oleh golongan bangsawan—baik pribumi dan belanda dan bukan wong cilik, serta masih banyak alasan lainnya.

Narasi historis juga ditopang dan dilegitimasi oleh beberapa referensi, seperti buku Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997) oleh Takashi Siraishi, buku Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang (1917-1920) (2016) oleh Soe Hok Gie, buku Syarikat Islam bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa (1997) oleh K.H. Firdaus Ahmad Naqib dan masih banyak lagi.

Akan tetapi, selain menggugat sejarah itu, juga sebenarnya menggugat sejarah lain, yaitu Hari Pers Nasional.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved