Opini
Strategi Pengembangan SDM dan Kemandirian Ekonomi, Menapaki Fase Abad ke-2 Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama (NU) genap berusia satu abad pada tanggal 16 Rajab 1444 H yang bertepatan dengan 7 Februari 2023..
Namun sebaliknya, SDM yang berkualitas akan memberi dampak pengoptimalan bagi pengelolaan dan penambahan nilai jual SDA.
Hal ini potensial dapat direalisasikan oleh NU, karena dukungan dari jumlah pesantren mencapai 26.000 (https://rmi-nu.or.id) dan 274 perguruan tinggi (laporan LPTNU pada Muktamar ke-34 NU) yang merupakan binaan NU tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu dukungan warga nahdiyin yang berkiprah di sekolah dan perguruan tinggi lainnya.
Dikotomi pendidikan umum dan agama kerap menjadi perdebatan, yang berdampak terhambatnya akselerasi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dibutuhkan secara berkelanjutan, integrasi secara holistik keilmuan multidisiplin dan interdisipliner.
Hal ini akan menghantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai disiplin ilmu, pemahaman agama yang baik, dan tentunya wawasan kebangsaan untuk peningkatan kualitas kecintaaan kepada tanah air.
Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dirilis Kemdikbudristek, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan lintas program studi asal dan pembelajaran di luar kampus.
Peserta didik akan memiliki multi skill sebagai bekal aktif di masyarakat. Selain itu, penguatan wawasan keagamaan dan kebangsaan yang terinternalisasi dalam setiap mata pelajaran/kuliah.
Praktik baik dari program MBKM dengan inovasi program yang relevan sesuai kebutuhan dapat dielaborasi bersama pemangku kebijakan.
Era ini membutuhkan kolaborasi lintas ilmu, untuk menghasilkan terobosan dalam membangun peradaban.
Strategi kedua yaitu kemandirian ekonomi, hal ini menjadi salah satu prioritas dalam mendorong aktivitas NU, menjalankan khittahnya dan memajukan pembangunan bangsa. Ali Masykur Musa (Ketua PP ISNU) mengungkapkan bahwa “kemandirian ekonomi menjadi prasyarat kemandirian politik kebangsaan NU.”
Dengan potensi jumlah warga nahdiyin yang besar, memberi kesempatan kepada NU untuk mengidentifikasi dan mengelola secara mandiri kebutuhan ekonominya.
Dengan mempertimbangkan potensi yang dimiliki masing-masing warga.
Selanjutnya mengidentifikasi dan memproduksi produk yang dibutuhkan dan didistribusikan dengan jejaring dan pasar yang potensial. Dengan demikian, produk dari NU untuk NU, nasional hingga menembus pasar global.
Budaya entrepreneurship bagi santri dicanangkan sejak mereka menimba ilmu di pondok pesantren.
Diharapkan santri telah memiliki visi wirausaha sejak dini dengan membangun karakter santri entrepreneur.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.