Mahasiswa Meninggal saat Diksar

Keluarga Curiga Kasat Reskrim Polres Maros Berpihak ke Unhas Penyidikan Kematian Virendy Marjefy

James Wehantouw menilai, tindakan Kasat Reskrim Polres Maros Iptu Slamet menimbulkan dugaan keberpihakkan Polres Maros kepada Unhas dan Mapala 09

Editor: Ari Maryadi
Tribun Timur/Faqih
Puluhan mahasiswa Unhas mengenang kepergian Virendy Marjefy (19) dengan aksi gerakan Malam seribu lilin digelar di taman Unhas, Jumat (20/1/2023). 

TRIBUNTIMUR.COM, MAKASSAR -- Pihak keluarga mengecam tindakan Kasat Reskrim Polres Maros Iptu Slamet berkoar-koar di sejumlah media membeberkan hasil visum terhadap luka-luka dan lebam-lebam di tubuh Virendy Marjefy Wehantouw.

Virendy Marjefy Wehantouw meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan diksar Mapala 09 Fakultas Teknik Unhas.

Dalam berita sejumlah media nasional dan daerah, Kasat Reskrim Polres Maros Iptu Slamet dalam komentarnya menyatakan hasil visum dari Rumah Sakit Grestelina itu wajar.

James Wehantouw, ayah almarhum Virendy Marjefy Wehantouw, berpandangan, pernyataan Kasat Reskrim Polres Maros Iptu Slamet itu menunjukkan indikasi penyidik sudah memegang hasil visum.

"Kasat Reskrim Polres Maros bisa berkomentar demikian di media, apakah benar bersangkutan sudah memegang ataupun melihat hasil visum? Berita-berita media tersebut dipublish Kamis dan Jumat (18-19/01/2023)," ujar James Wehantouw, ayah almarhum Virendy Marjefy Wehantouw kepada wartawan, Senin (23/01/2023).

Padahal kenyataannya, menurut wartawan senior eks Harian Pedoman Rakyat itu, keluarga baru membuat laporan polisi ke Polres Maros pada Minggu (15/01/2023).

Sedangkan penyidik baru ke RS Grestelina pada Jumat (20/01/2023) siang membawa surat permohonan visum.

"Itu berarti Kasat Reskrim sudah membuat kesimpulan sendiri dan merilisnya ke media, sedangkan bersangkutan belum mengajukan surat permohonan visum (SPV) ke RS dan belum memegang surat hasil visum untuk menjadi salah satu alat bukti dalam penyidikan perkara," kata anggota Penasehat PWI Sulsel ini.

Baca juga: Polisi Sebut Penyelidikan Mahasiswa Meninggal saat Diksar Makan Waktu Sekitar 2 Bulan

James Wehantouw menilai pula, tindakan Kasat Reskrim Polres Maros Iptu Slamet menimbulkan dugaan adanya keberpihakkan Polres Maros kepada pihak Unhas dan organisasi Mapala Fakultas Teknik Unhas yang ditengarai berusaha keras 'membungkam' kasus kematian Virendy dan juga agar bisa lepas dari jeratan hukum.

Selain itu, ungkap James lagi, Kasat Reskrim Polres Maros Iptu Slamet dalam keterangan di media selalu menegaskan bahwa pihak keluarga tidak melaporkan perihal kematian korban, tapi hanya mengadukan perihal kelalaian panitia diksar.

Padahal, kata James Wehantouw, sangat jelas ketika membuat laporan polisi di SPKT Polres Maros, Viranda Wehantouw (kakak korban) menyampaikan perihal kematian adiknya saat mengikuti kegiatan Diksar Mapala FT Unhas.

Pihak keluarga menduga penyebab kematian Virendy Marjefy Wehantouw karena adanya unsur kekerasan/penyiksaan dan kelalaian SOP yang dilakukan panitia.

"Saat membuat laporan di SPKT Polres Maros, saya menceritakan perihal kematian Virendy dan kejanggalan-kejanggalan serta luka-luka hingga lebam yang ada di tubuhnya. Saya juga memperlihatkan foto-foto luka-luka dan lebam-lebam di tubuh Virendy. Setelah melihat foto-foto itu, sejumlah petugas yang ada di ruang SPKT bahkan merasa yakin adanya unsur kekerasan dan kelalaian panitia," papar Viranda.

Baca juga: Malam Seribu Lilin Mahasiswa Unhas Kenang Virendy Marjefy Korban Diksar Maut Mapala 09 Teknik Unhas

James yang juga menjabat Wakil Pemimpin Umum Media Online pedomanrakyat.co.id ini, menilai langkah yang dilakukan Viranda mewakili pihak keluarga membuat laporan polisi ke Polres Maros untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan atas kematian adiknya sudah sesuai prosedur hukum dan wajib ditangani aparat kepolisian secara obyektif, transparan serta tuntas.

Halaman
12
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved