Keindonesiaan
Peradaban Islam
Siri’ dalam peradaban Bugis dan Makassar tumbuh dari “pangaderen” yaitu perpaduan adat dengan syariat Islam.
“Penganderen” tumbuh secera evolusi, yang berawal ketika Datuk Ribandang, mengislamkan Raja Tallo, I Mallingkaan Daeng Manyori dengan gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam, 22 September 1605.
Dua tahun kemudian kemanakan Raja Tallo, yaitu Raja Gowa, Mangerangi Daeng Marabbia, memeluk Islam dengan gelar Sultan Alauddin, 09 November 1607 pada hari Jum’at, yang ditandai salat Jum’at pertama di Mesjid Mallekana, yang didirikan saudagar-saudagar Muslim.
Demikian juga Fakih Amrullah (Petta Kali Faqqi), Kadi Kerajaan Islam Bone yang pertama (1629-1663), membangun peradaban Islam di Bone, dengan terlebih dahulu membangun dan mendirikan Mesjid Al-Mujahidin.
Mesjid itulah yang menjadi pusat ibadah, dakwah, pendidikan, kebudayaan, dan peradaban Islam.
Hal yang sama juga terjadi di Luwu, Wajo, Soppeng, Sidenreng, dan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan.
“Penganderen” juga melahirkan nilai-nilai utama orang Bugis dan Makassar seperti warani (berani), malempu (jujur), macca (cerdas), dan sitinaja (pantas).
Keempat nilai itu disebut sulafa empa (segi empat) yang menjadi ciri huruf Lontara dan ciri utama Mesjid Al-Markaz Al-Islami yang hari ini, 12 Januari 2023 memasuki usia ke-27.
Selamat. Alfatiha.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/anwar-arifin-andi-pate_20171216_214848.jpg)