Keindonesiaan
Peradaban Islam
Siri’ dalam peradaban Bugis dan Makassar tumbuh dari “pangaderen” yaitu perpaduan adat dengan syariat Islam.
Oleh:
Anwar Arifin Andi Pate
Guru Besar Ilmu Komunikasi
TRIBUN-TIMUR.COM - Kerika memberi ceramah ba’da shalat Jumat pertama pada acara peresmian penggunaan Mesjid Al-Markaz Al-Islami, 12 Januari 1996 (21 Sa’ban 1416 H) di Makassar, cendekiawan Muslim Dr.H.Nurcholish Madjid menyatakan, “Mesjid adalah lembaga keislaman dalam membangun peradaban Islam”.
Peradaban yang dimaksud Nurcholish, adalah kemajuan kecerdasan dan kebudayaan lahir batin,
Peradaban yang berasal dari kata adab bermakna kehalusan akhlak.
Artinya peradaban merupakan budaya (budi dan daya) yang tinggi dalam semua segi kehidupan suatu masyarakat terutama ada sopan santun, ada kecerdasan, ada ilmu dan teknologi, serta ada seni yang tinggi.
Demikian juga Dr.H.Quraish Shihab dalam Khutbah Jum’at menegaskan, “Mesjid Al-Makaz Al-Islami betul-betul kelak dapat menjadi pusat peradaban Islam, sebab sebelumnya tempat ini adalah lokasi Universitas Hasanuddin”.
Penegasan Quraish itu telah terbukti bahwa mesjid di Maroko berekembang menjadi Universitas Al- Qurawiyyin (859) dan mesjid di Kairo Mesir, tumbuh menjadi Universitas Al-Ashar (970).
Untuk membuat mesjid Al-Markaz Al-Islami menjadi basis pembangunan peradaban Islam, Quraish mengutip falsafah orang Bugis yang mayoritas Muslim, “Kode’ siri’mu, inreko siri”.
Artinya “jika harga diri tak ada, pinjamlah pada orang lain”.
Berdasarkan falsafah orang Bugis itulah Quraish mengharapkan kita memiliki harga diri atau siri’ (rasa malu).
Sebab dengan siri’ dapat mendorong orang berperestasi. Artinya jika ada pengurus masjid, terutama Badan Pengurus yayasan yang tidak berprestasi akan dapat disebut “to’ de’ siri’na” (nihil siri’na), sehingga perlu meminjam siri’ dari orang lain.
Dr.Quraish juga menyebut bahwa orang yang berpestasi dalam arti produktif berkarya untuk memakmurkan mesjid, rumah Allah dan upaya membangun peradaban Islam, yang akan merupakan pahala yang disebut “jariah”, karena akan terus mengalir.
Jika pengurus mesjid tak mampu berprestasi dan berkarya, maka harus “masiri” (menjadi malu).
Siri’ dalam peradaban Bugis dan Makassar tumbuh dari “pangaderen” yaitu perpaduan adat dengan syariat Islam.
Hal itu berkembang sebagai nilai-nilai utama peradaban Bugis dan Makassar yang berbasis mesjid.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/anwar-arifin-andi-pate_20171216_214848.jpg)