Catatan Bola
Kebahagiaan Yang Ditunggu Itu
Di atas segalanya, turnamen sepak bola internasional seperti Piala Dunia adalah yang menyatukan negara Argentina yang terpecah.
Bagi rakyat pimpinan Presiden Alberto Fernández, Piala Dunia adalah satu bulan setiap empat tahun di mana mereka boleh bermimpi besar.
Koran Belanda, Algemeen Dagblad, memberitakan bahwa Tim Oranye tidak hanya akan bermain melawan Lionel Messi dan timnya, tetapi juga akan bertemu puluhan ribu fans Argentina di Stadion Lusail yang megah.
Ada suporter Argentina yang menjual mobil dan rumah agar bisa pergi menonton langsung laga itu.
Palang pintu tim Belanda, Virgil Van Dijk, berkata, “Kami tak hanya disiapkan untuk menghentikan Messi, tapi juga tim Argentina.”
Sementara bagi Messi melawan tim oranye adalah laga yang sulit, “Mereka punya geweldige spelers en een geweldige coach (pemain hebat dan pelatih hebat).”
Di atas segalanya, turnamen sepak bola internasional seperti Piala Dunia adalah yang menyatukan negara Argentina yang terpecah.
Orang Argentina yang menjadi kolumnis The Atlantic, Aldana Vales, menulis, “Ketika kami kalah, kami berduka secara kolektif.
Di saat-saat meratapi kekalahan, dengan nada yang paling tragis kami menulis di media sosial: nunca vamos a ser felices (kita tidak akan pernah bahagia).”
Laga dini hari nanti, akan menjadi duel antara pelatih termuda di Piala Dunia di Qatar, Lionel Scaloni (44 tahun) dari Argentina versus pelatih tertua Louis Van Gaal (71 tahun) dari Belanda, tulis Buenos Aires Times.
Scaloni mengatakan bahwa ia masih bermain untuk Deportivo La Coruna, pada saat van Gaal sudah melatih Barcelona.
Itu berarti ketika Scaloni terjun ke kancah sepak bola Eropa, pada usia 19 tahun, Van Gaal sudah menjadi pelatih bergengsi berusia 46 tahun yang membawa Ajax menjuarai Liga Champions dan Piala Interkontinental pada 1995.
Van Gaal juga membawa Belanda di peringkat ke-3 Piala Dunia 2014. Scaloni sangat bangga bisa bersaing dengan van Gaal yang sangat ia kagumi.
Belanda sangat menginginkan meraih trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah selalu kalah dalam tiga final (1974, 1978 dan 2010), sedangkan Messi yang menganggap ini adalah Piala Dunia-nya yang terakhir, sangat merindukan untuk merengkuh Piala Dunia pertamanya sebelum pensiun dari tim nasional.
Jalan ke arah sana menempuh jalur terjal dan berliku. Harus bersusah-payah untuk menggapai kemenangan.
Pemain top Brasil, Pele, berujar, “Semakin sulit meraih kemenangan, semakin besar kebahagiaan saat menang.” (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/willy-kumurur_20180213_064430.jpg)