Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Belajar Mengajar

Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru maupun calon guru adalah teknik pengelolaan kelas.

Editor: Sudirman
Rinaldi
Rinaldi, Mahasiswa IAIN Parepare 

Saya sadar betul bahwa ketidakmampuan saya untuk memahami latar belakang murid-lah yang menjadi alasan mengapa mereka berperilaku seperti itu.

Hal itu saya sadari belakangan kemudian, saat saya selesai menonton sebuah film HICKI.

Film yang merceritakan seorang perempuan yang mempunyai cita-cita mulia menjadi seorang guru dan telah mendaftar ke sana kemari untuk bisa diterima mengajar di satu sekolah.

Akan tetapi karena ia mengidap Sindrom Taurette (cekukan) tak ada satu pun sekolah yang menerimanya karena alasan hanya akan mengganggu pembelajaran siswa.

Hingga satu saat, ia mendapat tawaran untuk mengajar pada sebuah sekolah yang bernama St. Notker dan diperhadapkan pada sebuah kelas 9F, kelas yang murid-muridnya terkenal sangat nakal menurut para guru di sekolah itu.

Naina Mathur. Itulah nama guru perempuan tersebut. Ia berhasil mengajar dan menjadikan para murid kelas 9F berprestasi.

Bukannya tanpa tantangan, pada awal-awal ia mengajar di kelas tersebut, berbagai jenis penolakan ia pernah dapatkan.

Ia pernah jatuh dari kursi yang tidak sanggup menahan beban karena perbuatan muridnya. Mendapatkan sebuah ember yang berisikan bola-bola yang akan meledak ketika ia memasuki kelas.

Pernah juga dia menulis dengan kapur dan tiba-tiba saja kapur tersebut meletus bagaikan petasan karena sudah tercampur dengan serbuk korek api yang telah diracik oleh muridnya.

Namun demikian, ia tidak pernah terlalu mempersoalkan perilaku muridnya. “Tidak ada siswa yang buruk, hanya ada guru yang buruk” adalah satu keyakinannya.

Hanya perlu pendekatan atau usaha yang lebih lagi untuk dapat mendapatkan simpati dari murid (berdamai). Ia lalu berinisiatif untuk memahami satu per satu latar belakang dari murid-muridnya. Ia mendatangi orang tua, memasuki lingkungan, dan mencoba mengenal ruang sosial para muridnya.

Ia menyadari satu fakta: kondisi sosial ekonomi kelas 9F berbeda jauh dari murid kelas lain yang notabenenya lahir dari kelompok berada.

Di lain kesempatan ia selalu saja membela muridnya yang dilaporkan guru lain karena berbuat onar dan membuat kelas lain terganggu. Bukan hanya sekali, tetapi tiga kali ia selalu membela muridnya. Meskipun kepala sekolah tahu bahwa ia sedang berbohong demi kelas 9F.

Akan tetapi, karena sifatnya itu, siswa-siswa kelas 9F mulai menaruh rasa bersalah kepada diri sendiri dan berempati kepada Naina Mathur yang bersifat baik kepada mereka.

Singkat cerita, Naina Mathur berhasil mendapatkan hati murid-muridnya. Dari sinilah cerita menjadi menarik.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved