Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Refleksi 107 Tahun PSM: Hanya ‘Nyaris’, Belum Pernah Degradasi

Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang pun menyerah tanpa syarat dan Indonesia pun merdeka dua hari kemudian, 17 Agustus 1945. 

Tayang:
Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
M Dahlan Abubakar, Dosen Tidak Tetap Unhas 

Oleh M.Dahlan Abubakar
Penulis Buku “Satu Abad PSM Mengukir Sejarah”


TRIBUN-TIMUR.COM - Pada tanggal 2 November 1915 selalu diingat sebagai hari berdirinya  “Makassaarsche Voetbal Bond” (MVB) yang beberapa tahun kemudian bereinkarnasi menjadi Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) yang kita kenal hingga sekarang.

MVB berdiri saat Hindia Belanda menjadikan Makassar sebagai pusat pemerintahan di Indonesia Timur. Saat itu, Makassar terkenal dengan nama bandar, pusat pelabuhan Indonesia. Beragam kapal asing menjadikan Bandar Makassar sebagai pusat pelayaran bagi mereka, sementara untuk kapal-kapal domestik menjadikan Bandar Makassar sebagai tempat persinggahan untuk menjual  rempah-rempah dan hasil bumi mereka ke kapal-kapal asing.  

Kegiatan yang bertaraf internasional itu pun ikut memengaruhi masyarakat Makassar mengenal olahraga sepak bola yang sangat digandrungi di seluruh dunia.

Apalagi, Belanda termasuk salah satu negara maniak sepak bola.  Pada tanggal 2 November 1915 resmi berdiri sebuah klub sepak bola di Makassar bernama  Makassaarsche Voetbal Bond (MVB) itu. 

MVB kala itu terdiri atas gabungan pemain sepak bola dari jajaran elite Belanda dan pribumi Makassar Indonesia, juga dari kalangan Tionghoa. Dua pemain poribumi MVB,  Sagi dan Sangkala, sangat terkenal dan menjadi pembicaraan hangat hingga di luar negeri.

Beberapa kali MVB mendapatkan undangan bermain di luar negeri untuk pertandingan persahabatan.  

Pada tahun 1922, sepak bola di Makassar ternyata berkembang cukup pesat. Ada 4 divisi di  tubuh MVB waktu itu.

Pada  sebuah klub sepak bola kala itu, umumnya memiliki kesebelasan lebih dari satu divisi. Pada bulan Juni 1922, MVB mengadakan sidang memilih pengurus baru yang dilakukan secara langsung.

Dalam susunan kepengurusan yang baru tersebut, komposisi yang terbentuk cukup mewakili masyarakat saat itu, Eropa, pribumi, dan Tionghoa. 

Beberapa klub di berbagai wilayah Indonesia mulai terbentuk pada tahun 1926-1940 seperti di Sumatera, Kalimantan, Bali, dan Jawa. Pada tahun itu pula masa merupakan keemasan klub MVB.

Sangkala yang merupakan pemain andal MVB tercatat sebagai promoter pertama klub binaan Hindia Belanda ini. 

Sejumlah klub di Indonesia mengundang klub MVB untuk pertandingan persahabatan dan resmi. Saat itu kemenangan demi kemenangan diraih oleh Sangkala dan kawan-kawan.

Klub ini pun menjadi kesebelasan yang disegani sepanjang pemerintahan Hindia Belanda berkuasa di Indonesia.  

Pada tahun 1942, saat Jepang mulai masuk ke Indonesia hingga ke Makassar, nyaris tidak ada aktivitas sepak bola.

Semua hal yang ‘berbau’ Belanda dilenyapkan oleh Jepang. Peraturan dari Jepang inilah yang membuat putra-putra Makassar langsung mengubah nama Makassar Voetball Bond (MVB) menjadi Persatuan Sepakbola Makassar atau yang lebih dikenal dengan PSM Makassar.

Meskipun berada di bawah tekanan Jepang, putra-putra Makassar terus menjalankan aktivitas berlatih sepak bola dan membesarkan nama PSM Makassar.

Itu terjadi setelah Jepang angkat kaki dari  Indonesia setelah takluk atas sekutu pascapengeboman oleh Amerika di Hiroshima 6 Agustus 1945 dan menewaskan 90.000-146.000 jiwa dan Nagasaki 9 Agustus 1945 yang menewaskan 36.000-80.000 jiwa.

Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang pun menyerah tanpa syarat dan Indonesia pun merdeka dua hari kemudian, 17 Agustus 1945. 

Ketika  Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI)  berdiri tahun 1930 dalam usianya ke-70 tahun (2000), sama sekali tidak menyebut Makassaarsche Voetbal Bond (MVB) sebagai salah satu klub tertua di Indonesia.

Itu wajar-wajar saja.

Sebab, PSSI lahir dan terbentuk justru dipicu oleh Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang mempertemukan para tokoh pemuda dari Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Minahasa, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, dan lain-lainnya. Ketika PSSI berdiri, MVB yang kemudian berubah menjadi Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) sudah lebih dulu lahir 15 tahun sebelumnya. 

Oleh sebab itu, tidak salah jika disebutkan PSM merupakan kesebelasan sepak bola tertua di Indonesia. Tidak jelas siapa yang menginisiasi hingga terbentuk Makassaarsche Voetbal Bond (MVB) 2 November 1915 itu.

Lahirnya PSM pada tahun ini pun ada yang menyebut tidak pas benar. Salah seorang teman yang bekerja di media online Jakarta menyebut, seorang berkebangsaan Belanda menyebutkan dan memiliki data,  PSM sebenarnya lahir tahun 1916.

Tetapi angka itu tidak dikenal luas. Jika pun benar, tetap saja MVB yang kemudian dikenal sebagai PSM hingga kini, masih merupakan klub perserikatan tertua di republik ini. Dan,  selalu  diperingati  2 November 1915.

Melihat kelahirannya, boleh jadi MVB bersama sejumlah bonden (klub) yang ada di bawahnya telah lebih dahulu berkembang dan berprestasi secara lokal di Makassar. Memang di beberapa kota pasca-Sumpah Pemuda, berdiri klub sepak bola antara lain Persatuan Sepak bola Indonesia Mataram (PSIM) di Yogyakarta, “Voetbal Indische Java” (VIJ), “Bandung Indische Voetbal Bond” (BIVB) di Bandung, mengikuti dua klub atau bond yang lahir 1927, yakni VVB di Surakarta dan “Soerabaia Indische Voetbal Bond” (SIVB) di Surabaya. Dalam catatan ini, MVB sama sekali tidak termasuk di antara sejumlah bond yang lahir bersama-sama dengan bond-bond tersebut, meski MVB jauh lebih awal terbentuk di Makassar. 


Hanya Nyaris


PSM termasuk kesebelasan yang hingga kini tidak pernah terdegradasi dari ajang kompetisi sepak bola nasional.

Hanya pernah nyaris terdegradasi pada Kompetisi Liga Indonesia 2020-2021 silam. Dia malah tetap bertahan, bahkan kini penampilannya  kian memesona. Hingga meinggu ke-11 sebelum kompetisi dihentikan gara-gara “Tragedi Kanjuruhan”, belum pernah kehilangan angka, baik di kandang maupun   tandang.

Sejak kelahirannya, PSM telah mencatat 6 kali tampil sebagai kampiun Kompetisi Divisi Utama PSSI (1956-1957, 1957-1959, 1964-1965, 1965-1966, 1991-1992, dan 1999-2000). Dalam rekam jejaknya, tim “Ikan Merah” ini mencatat 10 kali sebagai runner up, berarti nyaris juara. Sekali pernah juara III.

Pada turnamen Jusuf Cup yang dilaksanakan di Stadion Mattoanging (almarhum), PSM mengukir prestasi 7 kali juara (1965,1967, 1975, 1978, 1980, 1984, dan 1999). Pada tahun 1974, PSM tampil sebagai juara Soeharto Cup pada era Ronny Pattinasarany, Anwar Ramang dkk. 

Untuk pertandingan lokal Habibie Cup yang dilaksanakan di Parepare, PSM empat kali menyabet juara (1993,1995, 1996, dan 1997). Pada tahun 2019, PSM meraih  Piala Indonesia dalam pertandingan final yang menentukan di Mattoanging.

Untuk kompetisi internasional berskala Asia dan ASEAN, pada tahun 2000-2001, PSM mampu mencapai perempat final Liga Champion Asian Footbal Federation (AFC), Semifinalis AFC Cup 2019 Zona ASEAN dan 2022. Jauh pada tahun 1996, PSM tampil sebagai runner up Turnamen Bangabandhu Cup di Bangladesh, setelah kalah atas Malaysia 3-4 di final. 

Hari ini, PSM genap 107 tahun. Yang saya tulis ini hanya secuil kisah klub kebanggaan kita ini.  Kisah lengkap ada di buku setebal 694 halaman yang saya tulis bersama Andi Widya Syadzwina tahun 2020 berjudul “Satu Abad PSM Mengukir Sejarah”.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved