Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Headline Tribun Timur

Solihin Kalla: Ketidakpastian Ekonomi Hanya di Kepala Ekonom

Respon optimistis Solihin Kalla menjawab bagaimana pelaku usaha menyikapi ketidakpastian resesi ekonomi global akibat perang Ukraina-Rusia.

Tayang:
Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/KASWADI
Suasana CEO Busines Forum 2022 di Saoraja Wisma Kalla, Makassar, Selasa (4/10/2022). President Director Kalla Group Solihin pada kesempatan itu menjelaskan tentang optimisme pelaku usaha lokal-nasional menyikapi ketidakpastian resesi ekonomi global akibat perang Ukraina-Rusia dan pascapandemi Covid-19. 

“Prestasi Sulsel berhasil mendongkrak situasi Indonesia,” sebutnya.

Sambungnya, Sulsel juga mampu menunjukkan resiliensi ekonomi. Standar deviasi pertumbuhan ekonomi mencapai 2,5 persen, hanya sedikit di atas nasional yang angkanya 2,15 persen.

“Resiliensi ini disebabkan pasar Sulsel yang besar, produk lengkap dan peran strategis Sulsel sebagai hub Indonesia Timur,” ungkap Komisaris Independen PT Indosat Tbk itu.

Wijayanto juga menerangkan grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2000 datar-datar saja. Beda dengan grafik negara lain, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Eropa dan Amerika Serikat naik turun.

Menurutnya, grafik datar ini menggambarkan by nature ekonomi Indonesia lebih resiliensi dari negara lain. “Ketika negara lain naik-turun, kita lebih stabil,” ujarnya.

Wijayanto coba menghitung standar deviasi GDP Growth (2000-2021) dari pertumbuhan ekonomi.

Standar deviasi Indonesia hanya 1,17 persen. Sementara negara lain seperti Amerika Serikat 1,87 persen, Cina 2,49 persen, Eropa 2,50 persen, Thailand 3,09 persen, Malaysia 3,11 persen dan Singapura 4,12 persen.

“Indonesia lebih resilent dibanding negara lain, terlihat dari standar deviasi pertumbuhan PDB yang lebih rendah,” sebutnya.

Menurutnya, hal ini terjadi karena ekonomi Indonesia tergantung permasalahan di dalam negeri. Kalau di luar negeri tidak terlalu berpengaruh.

Dari sisi inflasi juga begitu. Inflasi Indonesia 4,7 persen. Sementara negara maju capai 10 persen.

Muncul pertanyaan dari kejadian ini, apakah resilient sesuatu positif atau tidak.

Wijayanto mengatakan resilient Indonesia cukup bagus. Makanya tidak perlu takut jika terjadi kriris global, karena ekspor dan impor Indonesia jika dijumlahkan hanya 39 persen GDP.

“Kita tidak banyak berdagang dengan negara lain, kalau ada turbulensi di negara lain, kita tenang-tenang saja,” jelasnya.

Cuma ketika ada opportunity global, Indonesia gagal manfaatkan peluang tersebut.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved