Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Headline Tribun Timur

Solihin Kalla: Ketidakpastian Ekonomi Hanya di Kepala Ekonom

Respon optimistis Solihin Kalla menjawab bagaimana pelaku usaha menyikapi ketidakpastian resesi ekonomi global akibat perang Ukraina-Rusia.

Tayang:
Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/KASWADI
Suasana CEO Busines Forum 2022 di Saoraja Wisma Kalla, Makassar, Selasa (4/10/2022). President Director Kalla Group Solihin pada kesempatan itu menjelaskan tentang optimisme pelaku usaha lokal-nasional menyikapi ketidakpastian resesi ekonomi global akibat perang Ukraina-Rusia dan pascapandemi Covid-19. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - “Ketidakpastian ekonomi itu hanya ada di kepala ekonom dan moderator. Pengusaha ya, harus pasti dan terukur,” kata President Director Kalla Group, Solihin ‘Ihin” Jusuf (46), merespon pertanyaan Andi Suruji (56), moderator CEO Business Forum 2022 di Sao Raja, Wisma Kalla, Jl Ratulangi, Makassar, Selasa (4/10/2022) pagi.

Respon optimistis putra Jusuf Kalla itu menjawab bagaimana pelaku usaha lokal-nasional menyikapi ketidakpastian resesi ekonomi global akibat perang Ukraina-Rusia dan pascapandemi Covid-19.

SoIihin jadi pembicara kedua di forum talkshow ekonomi makro itu. Singkat, alumnus Pittsburgh University Amerika ini hanya bicara kurang 5 menit dari 15 menit yang dialokasikan moderator.

Dia setelah Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina. Setelah Ihin, tiga pembicara lain; Febrina (Deputi BI Makassar), Darwisman (Kepala OJK Regional 6 Sulawesi, Maluku dan Papua), dan Andi Darmawan Bintang (Kepala Bapalitbangda Sulsel).

Ketiganya memaparkan data, regulasi dan juga menyebar optimisme makro ekonomi regional.

Ihin, sapaan akrabnya, meng-affirmasi-kan bahwa optimisme dan kepastian bisnis di kalangan pengusaha menghadapi krisis adalah keharusan.

Sebab, kata dia di tengah turbulensi krisis justru ada banyak kemudahan, inovasi dan jalan keluar.

“Justru, di krisis adalah masa kami (pengusaha) berkreasi. Banyak relaksasi,” ujar fungsionaris Kadin ini sambil tersenyum.

Baginya, ketidakpastian tak ada dalam kamus saudagar. Menetapkan prinsip dan mengerti kondisi pasar dan peta krisis, dan menyesuaikan diri dengan keadaan adalah kunci bertahan dalam turbulensi ekonomi.
“Justru”, tukas Ihin, “kepastian yang paling pasti adalah perubahan.”

Ihin menjadi CEO Kalla Group tahun 2018. Kala itu, Ihin sudah berusia 40 tahun. Ia menggantikan, bibinya, Fatimah Kalla (60), adik perempuan ayahnya.

Dia dapat tantangan baru mengkonsolidasikan sekitar 24 anak usaha di delapan sektor strategis; otomotif, Transportasi & Logistik, manufacture, konstruksi, property, pendidikan, hospitality, dan energi.

Di masa-masa itu, Kalla Group tengah memulai fase shifting dari usaha jasa dan perdagangan otomotif ke pengelolaan sumber daya alam, pembangkit energi hijau.

Ihin hanya kurang lebih 1/2 tahun menikmati stabilitas usaha. Awal 2020, pandemi Covid-19, menyerang nyaris semua sendi global ekonomi.

Ihin menggantikan peran tantenya di korporasi Kalla, setelah hampir dua dekade, dimagangkan di sejumlah korporasi dan Kalla Group.

Di masa pandemi, Kalla yang awalnya hanya mengelola PLTA Poso, mulai menambah kapasitas produksi; merambah ke Sulbar, pedamalan Tana Toraja, hingga ke Jambi.

Memasuki tahun keempat menjadi pengambil keputusan tertinggi di perusahaan ‘milik pribumi’ tertua di timur Indonesia, ini Kalla Group justru mulai banyak dilirik investor dan kolaborator asing.

Dia mengibaratkan, sektor energi dan manufaktur garapan Kalla, sebagai gadis perawan yang banyak dipinang investor.

Menurutnya, likuiditas usaha yang perform, dan mengedepankan nilai lokal, dan lingkungan, serta tidak melulu mengejar profit melainkan manfaat ke masyarakat, Kalla tengah menatap masa depan baru usaha.

“Boleh dibilang, kami lah satu-satunya perusahaan energi lokal yang memanfaatkan air sebagai sumber daya energi terbarukan. Dari 200 MW kita menuju 1 GigaWatt,” ujarnya.

Lirikan itu, ujarnya terlihat dari banyaknya tawaran pinjaman modal dari bank asing yang bunganya 0,4 persen, justru di saat bank lokal masih menawarkan bunga dua digit.

“Tapi karena komitmen lokal, kami tetap pakai kredit dari HIMBARA, itu komitmen kami.” ujar Ihin.

Dia mengeritik, pemain tambang di wilayah Sulawesi, ibarat pengusaha properti untuk investor dan pemodal asing.

“Pengusaha kita hanya jadi industri pendukung pertambangan. Belum menjadi pemain utama. Uangnya mengalir ke luar. Kita hanya sewakan lahan, power plant, smelter, dan angkutan. Kita hanya dapat limbah dan sampahnya.”

Dia berharap, kepada pemerintah untuk tetap berpihak ke pengusaha lokal. “Tamu juga harus ikut aturan tuan rumah.

Kami selalu memikirkan lokal. Keuntungan nomor 2, mandat ke masyarakat nomor satu,” kata Ihin.

Keajaiban Sulsel

Peringatan gelap dan suram perekonomian tahun 2023 diprediksi tak “berlaku” di Sulsel. Ekonom nasional, Wijayanto Samirin, menyebut Sulsel punya keajaiban. Perekonomian daerah ini takkan goyang oleh krisis global.

“Sulsel suatu keajaiban. Pertumbuhan ekonominya rata-rata selalu dua persen dari pertumbuhan nasional,” kata Wijayanto dalam CEO Business Forum 2022 di Saoraja Wisma Kalla.

Wijayanto mendorong Sulsel berinovasi menghadapi ancaman krisis ekonomi. Menurutnya, krisis ekonomi yang bakal terjadi berbeda dengan krisis ekonomi sebelumnya.

Dampak bagi Indonesia moderat saja, tetapi kemungkinan cukup panjang.

Makanya masyarakat berpenghasilan rendah didorong mempunyai daya beli uang tinggi, program UMKM dan sebagainya.

“Tak kalah penting Sulsel memanfaatkan krisis ini sebagai momentum untuk melakukan berbagai inovasi,” katanya saat ditemui usai kegiatan.

Dia menilai Sulsel memiliki potensi luar biasa untuk bertahan dalam kondisi krisis, bahkan bisa menjadi pemain.

“Karena Sulsel memiliki potensi luar biasa sebagai pemain yang kuat tidak hanya nasional, tapi juga regional,” katanya.

Dikatakan Wijayanto, Sulsel sangat beruntung, karena memiliki semua faktor untuk survive dalam kondisi krisis. Bahkan, recovery lebih cepat.

Sulsel pangsa pasarnya besar, natural resources yang kaya, pertanian, human resources, banyak perguruan tinggi dan saudagar Bugis-Makassar memiliki entrepreneurship yang kuat.

Olehnya, Makassar bisa didorong jadi hub industri kreatif untuk menarik talent dari berbagai tempat. Bekerja di Makassar dan hasilkan karya.

Belum lagi Sulsel memiliki nikel untuk diekspor. Nikel jadi bahan utama pembuatan baterai mobil listrik.

Mobil listrik akan menjadi tren di masa mendatang dan sudah di depan mata.

Wijayanto meminta momen ini dimanfaatkan oleh Sulsel, jangan sampai tertinggal.

“Sulsel sangat beruntung, karena memiliki semua faktor untuk bisa survive atasi krisis dan bisa recovery sangat cepat,” jelas Wijayanto.

Dia memaparkan, tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Sulsel 6,9 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional 5,0 persen.

Saat pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Sulsel turun minus 0,7 persen, dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional minus 2,1 persen.

Lalu di tahun 2021 pertumbuhan ekonomi Sulsel mulai naik 4,7 persen, sedangkan nasional hanya 3,7 persen.
“Sulsel suatu keajaiban. Pertumbuhan ekonominya rata-rata selalu dua persen dari nasional,” jelasnya.

Jika ditarik sebelum tahun 2011, Sulsel pertumbuhan ekonominya beberapa kali capai 10 persen. Bahkan jika dicermati data pemerintah pusat angka kemiskinan menurun.

“Prestasi Sulsel berhasil mendongkrak situasi Indonesia,” sebutnya.

Sambungnya, Sulsel juga mampu menunjukkan resiliensi ekonomi. Standar deviasi pertumbuhan ekonomi mencapai 2,5 persen, hanya sedikit di atas nasional yang angkanya 2,15 persen.

“Resiliensi ini disebabkan pasar Sulsel yang besar, produk lengkap dan peran strategis Sulsel sebagai hub Indonesia Timur,” ungkap Komisaris Independen PT Indosat Tbk itu.

Wijayanto juga menerangkan grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2000 datar-datar saja. Beda dengan grafik negara lain, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Eropa dan Amerika Serikat naik turun.

Menurutnya, grafik datar ini menggambarkan by nature ekonomi Indonesia lebih resiliensi dari negara lain. “Ketika negara lain naik-turun, kita lebih stabil,” ujarnya.

Wijayanto coba menghitung standar deviasi GDP Growth (2000-2021) dari pertumbuhan ekonomi.

Standar deviasi Indonesia hanya 1,17 persen. Sementara negara lain seperti Amerika Serikat 1,87 persen, Cina 2,49 persen, Eropa 2,50 persen, Thailand 3,09 persen, Malaysia 3,11 persen dan Singapura 4,12 persen.

“Indonesia lebih resilent dibanding negara lain, terlihat dari standar deviasi pertumbuhan PDB yang lebih rendah,” sebutnya.

Menurutnya, hal ini terjadi karena ekonomi Indonesia tergantung permasalahan di dalam negeri. Kalau di luar negeri tidak terlalu berpengaruh.

Dari sisi inflasi juga begitu. Inflasi Indonesia 4,7 persen. Sementara negara maju capai 10 persen.

Muncul pertanyaan dari kejadian ini, apakah resilient sesuatu positif atau tidak.

Wijayanto mengatakan resilient Indonesia cukup bagus. Makanya tidak perlu takut jika terjadi kriris global, karena ekspor dan impor Indonesia jika dijumlahkan hanya 39 persen GDP.

“Kita tidak banyak berdagang dengan negara lain, kalau ada turbulensi di negara lain, kita tenang-tenang saja,” jelasnya.

Cuma ketika ada opportunity global, Indonesia gagal manfaatkan peluang tersebut.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved