Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Melampaui Politik Sentimentil

Pemilu yang seharusnya menjadi pesta yang menyenangkan sering kali suasananya dibuat jadi menegangkan.

Editor: Sudirman
Hasbullah
Hasbullah, Penggiat Demokrasi dan Peneliti Jari Mata Kita 

Hasbullah

Penggiat Demokrasi dan Peneliti Jari Mata Kita

Menjelang tahun politik, peristiwa dan pernyataan yang aneh-aneh kerap bermunculan.

Pemilu yang seharusnya menjadi pesta yang menyenangkan sering kali suasananya dibuat jadi menegangkan.

Alih-alih meningkatkan rasionalitas publik, yang sering kali dibangkitkan justru sentimentalitas.

Baru-baru ini, dengan nada yang cukup provokatif, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) LBP mengatakan bahwa orang di luar Jawa jangan memaksakan diri jadi calon presiden. Entah apa motifnya?

Melalui kalimat tersebut, LBP secara implisit memperkuat konsensus yang berkembang di kalangan akademisi bahwa demokrasi Indonesia bergerak dari stagnasi menuju regresi.

Adanya pernyataan LBP itu membuat konvensi akademik soal kemunduran kualitas demokrasi kita di Indonesia semakin sulit untuk dibantah.

Pasalnya, pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa dunia politik kita masih tergolong primitif-tradisional.

Dikatakan demikian karena sebagian pejabat dan elite politik masih sibuk memainkan peran sebagai pendaur ulang sentimen primordial seperti etnis dan agama demi untuk mencapai kepentingan politiknya.

Primordialisme

Primordialisme berasal dari kata Latin 'primus', yang berarti 'pertama'; dan 'ordiri', yang berarti 'anyaman atau ikatan'.

Robuskha dan Shepsie (1972) menilai primordialisme sebagai loyalitas yang berlebihan terhadap budaya subnasional, termasuk suku, agama, ras, kedaerahan, dan keluarga.

Primordialisme sebagai pola pikir memiliki dampak positif dan negatif. Sikap primordial, di satu sisi, berfungsi dengan sendirinya sebagai budaya kelompok.

Namun di sisi lain, sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap yang cenderung subjektif dan memandang orang lain sebagai inferior.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved