Breaking News:

Opini Tribun Timur

Melampaui Politik Sentimentil

Pemilu yang seharusnya menjadi pesta yang menyenangkan sering kali suasananya dibuat jadi menegangkan.

Editor: Sudirman
Melampaui Politik Sentimentil
Hasbullah
Hasbullah, Penggiat Demokrasi dan Peneliti Jari Mata Kita

Namun di sisi lain, sikap ini dapat membuat individu atau kelompok memiliki sikap yang cenderung subjektif dan memandang orang lain sebagai inferior.

Praktik politik primordial biasanya digunakan untuk mempersoalkan antara "kami dan mereka", "aku dan kamu", hingga bentuknya yang paling ekstrem "Jawa dan non-Jawa", "Islam dan Kristen".

Dikotomi antagonistis semacam ini sengaja dibangun untuk memukul lawan politik yang dicap sebagai “yang lyan”, “orang luar”, atau “kaum pendatang”.

Efek dan Akarnya

Efek dari politik primordialisme tidak selalu baik, terkadang efeknya berakibat buruk.

Kita sangat menyadari hal ini. Donald L. Horowitz (1993) dalam artikelnya yang berjudul Democracy in Divided Societies mengatakan bahwa praktik politik antagonistis berdasarkan identitas, terutama identitas etnis, akan menghambat berjalannya demokrasi. Demokrasi mengalami stagnasi.

Tidak hanya mengubah keadaan demokrasi dari stagnasi menjadi regresi, politisasi identitas pada akhirnya akan menciptakan konflik antar etnis dan antar agama.

Dengan kata lain, kristalisasi dari konflik langsung antara sentimen-sentimen primordial dan antar-sentimen sipil, menurut Geertz (1965), adalah keengganan untuk menjadi bagian dari salah satu kelompok lain.

Itulah yang menimbulkan masalah seperti tribalisme, etnoisme, komunalisme, dan sebagainya.

Gejolak sosial di Papua, Pontianak, Sampit, Poso, dan Ambon telah memberikan pelajaran berharga tentang potensi destruktif politisasi primordialisme terhadap praktik demokrasi yang kurang sehat.

Dalam upaya menyelesaikan suatu masalah, hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami akar masalahnya.

Tentu saja, tidak hanya ada satu faktor yang dapat menimbulkan situasi seperti itu. Terdapat beberapa faktor.

Faktor pertama yaitu, masih berlangsungnya misinterpretasi tentang hakikat eksistensi keindonesiaan.
Kedua, ketimpangan representasi politik dan budaya.

Disproporsionalitas politik dan budaya juga memainkan peran penting dalam menciptakan frustrasi politik, mengabaikan representasi budaya, dan secara konkret berujung pada memperlambat perbaikan kehidupan.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved