Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pemprov Sulsel Cicil Dana Bagi Hasil Pajak Water Levy PT Vale Indonesia

Pemprov Sulsel diketahui punya utang sekira Rp60 miliar atas bagi hasil pajak permukaan air atau Water Levy PT Vale Indonesia.

Penulis: Wahyudin Tamrin | Editor: Abdul Azis Alimuddin
abdiwan/tribuntimur.com
Pekerja memantau pergerakan air di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Balambano di Desa Lambano, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel. PT Vale Indonesia memiliki tiga PLTA yakni, PLTA Larona, PLTA Balambano, dan PLTA Karebbe. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah Sulawesi Selatan (BKAD Sulsel) Muhammad Rasyid mengonfirmasi Pemprov Sulsel telah menyerahkan dana bagi hasil pajak kepada Pemda Luwu Timur.

Pemprov Sulsel diketahui punya utang sekira Rp60 miliar atas bagi hasil pajak permukaan air atau Water Levy PT Vale Indonesia.

Dana bagi hasil pajak water levy ini dari Januari sampai Agustus 2022.

“Rabu kemarin sudah dibayarkan bagi hasil pajak water levy kepada Pemkab Luwu Timur,” kata Rasyid, Jumat (23/9/2022).

Ia menambahkan, pembayaran dilakukan bertahap.

Menurutnya, pembayaran dana bagi hasil pajak water levy Rabu lalu baru Januari-Maret, sementara untuk triwulan dua belum.

Demikian juga triwulan tiga yang waktunya hampir habis.

“Kita akan bayarkan secara berkala,” kata Rasyid.

Kabid Humas Diskominfo Sulsel Sultan Rakib menyatakan pemprov belum bisa dikatakan punya utang ke Pemda Luwu Timur terkait pajak bagi hasil water levy.

Alasannya, Water Levy PT Vale belum berakhir.

“Ini tahun kan masih berjalan, Kecuali sudah menyeberang tahun, masuk di laporan keuangan dan diaudit sama BPK baru bisa dinyatakan utang,” kata Sultan.

“Ini soal waktu saja, segera dibayarkan begitu proses administrasi selesai. Intinya setiap tahun memang pemprov selalu kurang salur bagi hasil, tapi di akhir tahun dan awal tahun berikutnya pemprov selalu melunasi,” Sultan menambahkan.

Diketahui, water levy ini terkait pemanfaatan air melalui tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Luwu Timur.

Tiga PLTA PT Vale itu masing-masing Larona, Balambano, dan Karebbe.

Berdasarkan aturan pertambangan diatur di Undang-undang 28/2009, maka yang berhak menarik pajak air permukaan laut hanya pemerintah provinsi.

Kemudian pajak bagi hasil Water Levy PT Vale dibagi ke daerah yang menjadi objek tambang.

Sebelumnya, Kepala BKAD Luwu Timur Ramadhan Pirade menyatakan pemprov belum membayar pajak water levy ke Pemda Luwu.

“Belum dibayar sampai sekarang,” katanya.

Ramadhan mengaku sudah tiga kali melayangkan surat kepada Pemprov Sulsel soal tunggakan ini.

“Tiga kali dilayangkan surat, belum ada realisasi,” Ramadhan menambahkan.

Dimana pembagiannya, sebesar 80 persen merupakan hak Pemda Luwu Timur dan 20 persen untuk Pemprov Sulsel.(*)

3 PLTA PT Vale Indonesia

1. PLTA Larona

PLTA Larona, PLTA Balambano dan PLTA Karebbe. Ketiga PLTA yang beroperasi sejak tahun 1978, 1999 dan 2011 itu menghasilkan energi listrik sebesar 365 megawatt.
PLTA Larona, PLTA Balambano dan PLTA Karebbe. Ketiga PLTA yang beroperasi sejak tahun 1978, 1999 dan 2011 itu menghasilkan energi listrik sebesar 365 megawatt. (HANDOVER)

Bendungan

-Tipe: Rock Fill with Concrete Face

-Maksimum Storage: 10 juta meter kubik

-Panjang puncak: 550 meter

-Elevasi puncak: 322,2 meter di atas permukaan laut

Kanal

-Panjang: 6.969 meter

-Lebar: 14,4 meter

-Debit: 148 meter kubik per detik

Turbin

-Tipe: Francis Vertical Shaft

-Produsen: Hitachi/Zulzer

-Putaran: 272,7 rpm

-Head: 140-142,3 meter

-Diameter: 2849,6 milimeter

-Kapasitas: 65,44-67,05 megawatt

Generator

-Tipe: Umbrella

-Produsen: GE-Kanada

-Putaran: 272,7 Rpm

-Kapasitas: 85 MVA

-Tegangan: 11.000 volt

-Jumlah kutub: 22 ea

2. PLTA Balambano

Pekerja memantau pergerakan air di Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Balambano di Desa Lambano, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, beberapa hari lalu. PT Vale memiliki tiga PLTA yakni, Larona, Balambano, dan Karebbe.
Pekerja memantau pergerakan air di Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Balambano di Desa Lambano, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, beberapa hari lalu. PT Vale memiliki tiga PLTA yakni, Larona, Balambano, dan Karebbe. (abdiwan/tribuntimur.com)

Bendungan

-Tipe: Roller Compacted Concrete (RCC)

-Maksimum Storage: 31,5 juta meter kubik

-Panjang puncak: 350 meter

-Elevasi puncak: 167 meter di atas permukaan laut

-Top fly: 167 meters above sea level

Pelimpah

-Kapasitas: 3x750 meter kubik per detik

-Ukuran: 8x15,076 meter

Turbin

-Tipe: Francis Vertical Shaft

-Produsen: GE-Kanada

-Putaran: 214,3 rpm

-Head: 83,5-86,5 meter

-Kapasitas: 67,7-68,5 megawatt

Generator

-Tipe: Umbrella

-Produsen: GE-Kanada

-Putaran: 214,3 Rpm

-Kapasitas: 80 MVA

-Tegangan: 11.000 volt

-Jumlah kutub: 28 ea

3. PLTA Karebbe

PLTA Karebbe PT Vale Indonesia Tbk
PLTA Karebbe PT Vale Indonesia Tbk (Dok.PT Vale Indonesia Tbk)

Bendungan

-Tipe: Low Cement Conventional Concrete (LCVC)

-Maksimum Storage: 13,58 juta meter kubik

-Panjang puncak: 202 meter

-Elevasi puncak: 79,5 meter di atas permukaan laut

Pelimpah

-Jenis: 1 pintu air pelimpah + 2 pelimpah secara alami

-Kapasitas: 4470 meter kubik per detik

-Ukuran: 8x18,68 meter

Turbin

-Tipe: Francis Vertical Shaft

-Produsen: Andritz

-Putaran: 200 rpm

-Head: 70,8 meter

-Kapasitas: 63,7-65 megawatt

Generator

-Tipe: Umbrella

-Produsen: GE-Kanada

-Putaran: 200 Rpm

-Kapasitas: 78 MVA

-Tegangan: 11.000 volt

-Jumlah kutub: 30 ea.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved