Opini

Pembinaan

Dalam konteks Orde baru, “pembinaan” tak pernah benar-benar dioperasikan sebagaimana maksudnya. “Pembinaan” di situ senantiasa menelan korban..

Pembinaan
Tribun Timur
Abdul Karim, Majelis Demokrasi & Humaniora Sulsel.

Dengan demikian, pembinaan adalah sebuah solusi tegas yang logis, bukan jalan tengah, bukan jalan lembek. Tetapi “yang rusak”, “yang porak-poranda” dan “yang abnormal” itu harus dilihat dengan utuh, dan objektif, sebelum menarik garis solusi tegas itu. Ini perlu, agar solusi tegas tak sekedar digagas lantas digas. Barangkali disinilah titik kurangnya Orde baru (orba).

Setiap persoalan, ia menawarkan solusi yang memberangus satu atau beberapa hal. Disini, persoalan teratasi dengan melahirkan masalah baru. Sialnya, masalah itu seolah kekal--sebab hingga Orba rubuh 24 tahun lampau--masalah-masalah itu tetap menyala, tak pernah memasuki masa senjakala.
Di situ, pembinaan mengkhianati defenisinya. Ia membuang maknanya tentang mutlaknya perubahan terjadi dengan pembinaan. Ia memadamkan api yang satu, namun memancarkan panas yang lain di ruang yang lain pula.

Di banyak kasus kita temukan bagaimana Orde baru membina masyarakat suatu komunitas masyarakat. Namun di sisi yang lain pembinaan itu malah membinasakan yang lainnya. Kasus-kasus pembangunan infra struktur seringkali begitu. Orba membina sebuah komunitas masyarakat dengan membangun sarana-sarana infrasstruktur seperti waduk, DAM dan sebagainya, tetapi disisi lain ia membinasakan orang-orang yang dibeli lahannya dengan ganti rugi yang merugi. “Untung” di situ selalu buntung di kantong rakyat yang lahannya terambil.

Dalam konteks Orde baru, “pembinaan” tak pernah benar-benar dioperasikan sebagaimana maksudnya. “Pembinaan” di situ senantiasa menelan korban.
Dalam keadaan begitu, “pembinaan” yang dilancarkan tak pernah suci walau dianggap mulia sebagian kalangan. Di situ, “pembinaan” adalah sebuah kontradiksi.

Tetapi pembinaan dizaman Orba terlanjur viral dan vital. Pembinaan bahkan menjadi keseragaman. Bukan hanya dalam praktik pembangunan, tetapi juga dalam praktik organisasi, entah itu institusi birokrasi, entah itu institusi politik, entah itu institusi sosial kemasyarakatan. Pokoknya, kepada semua, Orba menginstruksikan vitalnya “pembinaan”.

Dan Orba mewariskan itu hingga kini. Di dunia penjabatan birokrasi, pangkat “pembina” terus ada hingga kini. Di sektor keamanan lapis bawah kita kenal Satuan Pembinaan Masyarakat di singkat Sat Binmas. Di sektor institusi politik, susunan “pembina” partai mesti ada dan eksis hingga kini. Sementara di level organisasi sosial-kemasyarakatan di setiap susunan pengurusnya senantiasa ada “pembina”.

Kita lantas menyimak, bina-membina ternyata nyaris absurd sepanjang Orba berjaya. Bekas-bekas kebaikan darinya nyaris hampa. Birokrasi selalu saja menjadi ruang praktik KKN yang nyata hingga lapis bawah. Cara kerja sektor keamanan seringkali bertentangan dengan prinsip dasar HAM. Di sektor politik “pembinaan” justeru menetaskan oligarki yang terus berkibar--bahkan hingga kini. Di level organisasi sosial kemasyarakatan, “pembinaan” justru memelihara doktrin sempit yang eksklusif. Hasilnya, institusi sosial kemasyarakatan ini tak merawat bangsa, tetapi merawat puak dengan jarak tertentu.

Ringkasnya, dalam konteks Orba bangsa ini surplus “pembinaan”, namun krisis kebaikan kemanusiaan untuk bangsa ini.

Kini bangsa ini tampak letih dengan pembinaan lantaran kaburnya jejak kebaikan yang terbit dari “proyek” pembinaan yang diwariskan Orba. Yang membina dan yang dibina justeru perlu dibina. Apanya yang dibina? “Mentalitas--rohaniahnya”, kata rekan saya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved