Breaking News:

Opini

Pembinaan

Dalam konteks Orde baru, “pembinaan” tak pernah benar-benar dioperasikan sebagaimana maksudnya. “Pembinaan” di situ senantiasa menelan korban..

Pembinaan
Tribun Timur
Abdul Karim, Majelis Demokrasi & Humaniora Sulsel.

Oleh; Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel dan Anggota Majelis Demokrasi dan Humaniora

TRIBUN-TIMUR.COM - Apa arti pembinaan? Sesegera mungkin jawaban mesti diutarakan. Orang-orang pandai menyusun kalimat untuk menjawabnya; sebagai usaha/upaya, tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk meraih hasil yang lebih baik. Atau mengusahakan agar lebih baik. Ada perubahan yang harus terjadi dengan pembinaan.

“Hasil lebih baik” dan “agar lebih baik” merupakan dua kalimat yang kehadirannya dalam defenisi itu perlu dicurigai. Barangkali ada gejala, bahwa terdapat sesuatu yang sedang rusak. Ada sesuatu yang sedang porak-poranda. Dan mungkin pula terdapat keadaan yang sebelumnya tidak normal dan atau tidak stabil dalam batas-batas norma dan moral yang baik.

Dengan demikian, pembinaan adalah sebuah solusi tegas yang logis, bukan jalan tengah, bukan jalan lembek. Tetapi “yang rusak”, “yang porak-poranda” dan “yang abnormal” itu harus dilihat dengan utuh, dan objektif, sebelum menarik garis solusi tegas itu. Ini perlu, agar solusi tegas tak sekedar digagas lantas digas. Barangkali disinilah titik kurangnya Orde baru (orba).

Setiap persoalan, ia menawarkan solusi yang memberangus satu atau beberapa hal. Disini, persoalan teratasi dengan melahirkan masalah baru. Sialnya, masalah itu seolah kekal--sebab hingga Orba rubuh 24 tahun lampau--masalah-masalah itu tetap menyala, tak pernah memasuki masa senjakala.

Di situ, pembinaan mengkhianati defenisinya. Ia membuang maknanya tentang mutlaknya perubahan terjadi dengan pembinaan. Ia memadamkan api yang satu, namun memancarkan panas yang lain di ruang yang lain pula.

Di banyak kasus kita temukan bagaimana Orde baru membina masyarakat suatu komunitas masyarakat. Namun di sisi yang lain pembinaan itu malah membinasakan yang lainnya. Kasus-kasus pembangunan infra struktur seringkali begitu.

Orba membina sebuah komunitas masyarakat dengan membangun sarana-sarana infrasstruktur seperti waduk, DAM dan sebagainya, tetapi disisi lain ia membinasakan orang-orang yang dibeli lahannya dengan ganti rugi yang merugi. “Untung” di situ selalu buntung di kantong rakyat yang lahannya terambil.

Dalam konteks Orde baru, “pembinaan” tak pernah benar-benar dioperasikan sebagaimana maksudnya. “Pembinaan” di situ senantiasa menelan korban.

Dalam keadaan begitu, “pembinaan” yang dilancarkan tak pernah suci walau dianggap mulia sebagian kalangan. Di situ, “pembinaan” adalah sebuah kontradiksi.
Tetapi pembinaan dizaman Orba terlanjur viral dan vital. Pembinaan bahkan menjadi keseragaman. Bukan hanya dalam praktik pembangunan, tetapi juga dalam praktik organisasi, entah itu institusi birokrasi, entah itu institusi politik, entah itu institusi sosial kemasyarakatan. Pokoknya, kepada semua, Orba menginstruksikan vitalnya “pembinaan”.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved