Opini

Lapas, Klinik Daur Ulang Pelaku Pidana

Rentetan peristiwa pidana ramai tersaji di hadapan kita. Motif, kronologi, dan tuntutan ancaman hukuman atas dugaan tindak pidana diulas detail media

TRIBUN TIMUR
Logo Tribun Timur - opini Lapas, Klinik Daur Ulang Pelaku Pidana 

Petugas Lapas dituntut serba bisa di segala kondisi, berperan sebagai petugas keamanan, paramedis, pendidik, bahkan sebagai mubaligh. Tugas yang kompleks di tengah keterbatasan personel.

Lapas adalah miniatur dunia luar, keamanan dan ketertiban wajib terjaga, penghuninya harus sehat fisik dan mental, menjadi warga Lapas yang baik, dan taat dalam kehidupan beragama.

Sejak awal masuk, narapidana akan melalui proses tes asesmen untuk menentukan jenis pembinaan yang dianggap paling sesuai.

Idealnya, rangkaian pembinaan yang diberikan sedapat mungkin membangun kesadaran narapidana, agar terwujud pertobatan yang nasuha dan disertai keterampilan kerja untuk bekal hidup dan penghidupannya kelak.

Lahirnya UU Pemasyarakatan 1995 telah mengubah paradigma perlakuan terhadap narapidana, mengubah konsep pembalasan dan penjeraan menjadi reintegrasi sosial, mengubah persepsi penghukuman ke pembinaan.

UU ini baru saja disempurnakan dengan UU Pemasyarakatan 2022, diperkuat dengan konsep keadilan restoratif dan pembaruan hokum pidana nasional.

Secara umum pembinaan di Lapas dibagi dua, 1.) pembinaan kepribadian, berkaitan dengan pola sikap dan mental napi, kesadaran untuk hidup sesuai sistem norma yang berlaku. Taat beragama, sadar hukum, sehat mental, dan berbudi pekerti yang baik. 2.) Pembinaan kemandirian, ini lebih pada pembekalan keterampilan kerja untuk jadi bekal ketika keluar agar bisa hidup mandiri.

Pembinaan kepribadian sejauh ini berjalan baik. Layanan konseling dan program bimbingan keagamaan dapat dengan mudah dijumpai di setiap Lapas, seperti tahfidz, pesantren, dan kegiatan kerohaniaan.

Di dalam Lapas tersedia rumah ibadah agama yang diakui.

Dukungan lembaga keagamaan, LPM Perguruan Tinggi, LSM, dan partisipasi Napi alumni berkontribusi besar membangun kesadaran para Napi dan memulihkan kepercayaan diri mereka untuk berubah lebih baik.

Jika pembinaan kepribadian terbilang berjalan baik, lain halnya dengan pembinaan kemandirian, masih membutuhkan uluran tangan, baik dari segi penyediaan sarana prasarana bimbingan kerja maupun pemasaran produk hasil karya para napi. Investasi social dari pihak ketiga sudah ada, namun belum cukup untuk dikatakan ideal.

Beberapa bekal keterampilan yang saat ini berjalan di beberapa Lapas seperti: mebel, las, peternakan, perikanan, perkebunan, kerajinan, dan seni.

Pembinaan kemandirian itu terus berjalan, namun kendalanya kini, hasil kerja dan karya narapidana ini belum begitu dilirik pasar, tidak mungkin dilakukan produksi terus menerus tanpa penjualan. Ini soal kelangsungan pembinaan.

Dari penjualan itu, napi mendapat upah untuk dirinya dan keluarga yang ditinggal. Sekiranya kegiatan produksi ini baik, Lapas yang dikenal konsumtif akan berpacu bertransformasi menjadi Lapas Produksi.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved