Opini Abdul Karim

Opini Abdul Karim: Pertukaran

zaman Orde baru (Orba) berjaya, pertukaran pelajar, dan pertukaran pemuda cukup intens. Program pendidikan ini mirip-mirip kelas inspirasi zaman kini.

Opini Abdul Karim: Pertukaran
abdul karim
Abdul Karim

Ia memimpikan dirinya reses ke kampung-kampung berpidato, membagi cerita dan citra dihadapan warga kampung sekalipun warga tak faham apa yang dibincangkan.

Ia juga mengimpikan dirinya study banding kesana-kemari hingga plesiran ke luar negeri.

Sejenak ia ingin bertukar dengan wakilnya di parlamen lantaran ingin merasakan bagaimana sejuknya tidur diruang sidang yang berpendingin ketika yang lain sedang bersidang.

Ia ingin sekali merasakan nikmatnya sebagai wakil rakyat yang duduk begitu saja.

Di lain waktu, ia hendak bertukar nasib sejenak dengan penjabat penting yang mendapat fasilitas setidaknya ajudan.

Kemana-mana dan dimana-mana para ajudan silih berganti menemani. Dan siapapun yang hendak menemuinya, mesti izin pada sang ajudan lebih dahulu.

Rumah dinas yang tak lepas dari penjagaan satpol PP. Nyamuk pun tak boleh masuk dirumah dinas itu tanpa perkenan sang petugas penjaga.

Dalam waktu yang lain, ia ingin sejenak bertukar nasib dengan walikota. Ia ingin duduk manis dikursi walikota, seraya menerima tetamu penting, dari dalam negeri hingga tamu asing yang membawa sejuta harapan diatas meja sang walikota.

Ia ingin sejenak merasakan bagaimana memberi instruksi kepada para kepala dinas, camat hingga lurah.

Mungkin pertukaran imajinatif ini tak lumrah. Tetapi rekan saya tetap berselera. Ia selalu membayangkan bertukar tempat sejenak dengan walikota yang entah di kota mana yang dimaksudnya.

Ia ingin sekali berbagi rasa dengan sang pemimpin kota itu; tentang bagaimana rasanya menjalani hidup dibilik rumah sewa yang sempit dan pengap, tentang hidup dari keringat informal, tentang hidup yang berjejal utang dibrentenir, dan entah apalagi.

Dan tentu pula ia hendak bertukar rasa dengan pemimpin kota lantaran ia ingin merasakan bagaimana membina kalangan masyarakat, entah masayarakat bijak, entah masyarakat bejat.

Saya tak mampu berkata-kata ketia ia mengutarakan keluhan imajinatifnya itu.

Bagiku, ini bukan soal khayalan semata, bukan pula kecemburuan sosial belaka, tetapi ini adalah refleksi kecil dari efek ketidak adilan yang selalu menyapa disetiap waktu dibarisan bawah.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved