Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Aswar Hasan

Opini Aswar Hasan: Perguruan Tinggi dan Media Pers Jangan Saling Menistakan

Dalam sambutannya, Prof JJ selaku Rektor Unhas menyatakan, bahwa sudah seharusnya Perguruan Tinggi mengapresiasi segenap karya jurnalistik pada Media.

aswar hasan
Aswar Hasan Dosen Fisipol Unhas - Penulis opini Perguruan Tinggi dan Media Pers Jangan Saling Menistakan 

Padahal, salah satu tugas utama dosen adalah menyebarluaskan atau mendiseminasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui beragam media atau forum.

Sangat jarang dosen mempublikasikan hasil pemikiran dan/atau penelitiannya melalui media massa. Ada banyak alasan penyebabnya. Tetapi yang paling utama adalah alasan “prestasi dan prestise”.
Bagi sebagian (besar) dosen, menulis di media massa masih dipandang bukan sebagai sebuah prestasi kepakaran yang memberikan harapan akademik secara layak dan menjanjikan.

Sangat berbeda jika seorang bisa merealease artikel di jurnal/prosiding ilmiah nasional terakreditasi, bahkan internasional bereputasi, apalagi bisa menembus Scopus Q1, Q2, dst., atau WoS dengan index dan impact factor yang tinggi.

Acungan jempol dari kolega, komunitas, dan institusinya pun akan diterima. Belum lagi insentif dan penghargaan yang akan diterima. Publikasi di jurnal terakreditasi atau bereputasi menjadi syarat bagi dosen yang akan mengajukan kenaikan jabatan fungsional Lektor kepala dan Profesor. Padahal karya ilmiah tersebut, belum tentu dibaca oleh para penentu dan pengambil kebijakan di negeri ini.

Kalau pun mereka membacanya, memahaminyapun secara baik dan benar, belum tentu. Disini lah letak urgensi bagaimana bahasa akademik itu ditransformasikan ke dalam bahasa masyarakat. Dan itulah tugas dan fungsi media massa.

Insentif tambahan untuk publikasi di jurnal/prosiding/buku pun lumayan besar. Ada pada kisaran Rp 2.000.000 - Rp 65.000.000.

Di samping itu, Juga merupakan tugas profesional dosen yang wajib ditunaikan sebagai Beban Kerja Dosen (BKD) setiap semester.

Sementara itu tak ada satupun klausul yang menyebut syarat publikasi di media massa (Kompas. Com.7/8-2022) belum lagi jika honor menulis di media massa masih memprihatinkan.

Karena itulah, tidak heran jika para dosen “berlomba-lomba” untuk mempublikasikan karya-karya ilmiahnya hanya ke jurnal ilmiah dan/atau prosiding yang terakreditasi atau bereputasi daripada publikasi di media massa (Farisi, 2022).

Motivasi instrinsik (prestasi dan prestise) dan ekstrinsik (insentif dan penghargaan) yang tidak berimbang inilah yang menjadi prima causa mengapa dosen tidak banyak dan tidak tertarik untuk menulis di media massa (kompas.com, 7/8-2022).

Boleh jadi, ini pun merupakan indikasi bahwa betapa para ilmuan kampus saat ini lebih peduli pada masa depan karirnya secara pribadi, daripada masa depan bangsanya.

Tetapi itu juga karena sistem pendidikan tinggi kita memang membingkai mereka untuk begitu, dimana sistem tersebut tidak menyediakan ruang agar para ilmuannya mengabdi untuk masyarakat demi kemajuan bangsanya. Wallahu a’lam Bishawwabe.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved