Opini Fathur Muhammad
Narasi Kebudayaan Arkeo-Astronomi Bumi Massenrempulu
Salah satu teori menyebutkan bahwa Stonehenge merupakan bentuk observatorium kuno sebagai tempat pengamatan benda-benda langit.
Oleh: Fathur Muhammad
Mahasiswa Magister Ilmu Falak (Astronomi Islam), Pascasarjana UIN Walisongo Semarang/Ketua Departemen Etnoastronomi IIAC (Indonesia Islamic Astronomy Club) dan Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Lahirnya peradaban astronomi dunia tidak terlepas dari sumbangsih zaman megalitikum yang telah menyisahkan ilmu pengetahuan dalam beragam bentuk, seperti menhir, dolmen atau meja batu, dan sarkofagus atau peti mati yang terbuat dari batu.
Sedangkan dalam tradisi megalitikum Nusantara berkembang dengan corak yang monumental, seperti arca, candi, waruga, batu kenong juga batu dakon.
Dalam tradisi megalitikum selain terhubung dengan ritual upacara kepercayaan, mereka juga menggunakan menhir sebagai sarana astronomi guna menentukan waktu, penanggalan, sistem arah mata angin, hingga penentuan musim.
Contohnya adalah, 1) bebatuan Nabta sebagai lingkaran kalender bangsa Mesir Kuno yang di bangun seribu tahun lebih tua dari Stonehenge. 2) Stonehenge, adalah monumen astronomi pra sejarah Inggris yang di bangun 3100-1800 SM.
Salah satu teori menyebutkan bahwa Stonehenge merupakan bentuk observatorium kuno sebagai tempat pengamatan benda-benda langit.
Sedangkan menurut William Stukeley menemukan fakta, bahwa posisi dan letak batu-batu itu menjadi penanda ketika Matahari terbit pada saat musim panas. 3) Candi Brobudur yang di bangun pada abad ke-9 M sebagai fungsi astronomi dalam menentukan arah mata angin, rasi bintang, dan penanda waktu.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya ukiran yang beragam pada relief-reliefnya mengindikasikan pengetahuan astronomi pada masa itu.
Khazanah astronomi di Sulawesi Selatan masih menyimpan banyak misteri yang sepatutnya perlu dikaji secara kultural sehingga tidak menghilangkan jejak kearifan lokal para leluhur.
Refleksi Arkeo-Astronomi Situs Tondon
Situs tondon merupakan sebuah peninggalan Arkeo-Astronomi zaman Megalitik yang terletak di Desa Tokkonan, Kec Enrekang, Kab Enrekang atau yang biasa dikenal dengan istilah Massenrempulu.
Situs tersebut berada di puncak gunung (Buttu Batu) dengan posisi koordinat 03°31”43,4’ Lintang Selatan dan 119°47”57,7’ Bujur Timur. Awal mula terbentuknya Kab. Enrekang/Endekan berasal dari kata Endeg artinya naik dari atau panjat, merupakan suatu kerajaan besar yang bernama Malepong Bulan terdiri dari 7 kerajaan yang bersifat Manurung yang dikenal dengan federasi “Pitue Massenrempulu”.
Secara historis, topografi situs tondon dikelilingi gunung dan lembah.
Pada lereng-lereng gunung yang akan dilalui terdapat sebuah fragmen gerabah atau pecahan wadah dari tanah liat, sehingga menjadi indikasi bahwa adanya proses tansformasi secara primordial dari sisah okupasi di masa lampau.
Peninggalan arkeo-astronomi zaman megalitik berada di puncak gunung terdapat batuan gamping berukuran panjang 250 meter dan lebar sekitar 60 meter dengan beragam bentuk goresan dan juga terdapat batu lumpang, dakon, dan batu berlubang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/logo-tribun-timur-1-2102021.jpg)