Opini Tribun Timur
Kolong
Dalam konteks pemukiman orang-orang Sulawesi Selatan, dulu dan kini rumah panggung menjadi karakter tersendiri dalam pranata sosialnya.
Namun selalu rindu pulang kampung. Olehnya bersukurlah sebagai orang kampung.
Sebab disana kita memiliki kebahagiaan yang tak dipunyai orang kota.
Ketiak Kekuasaan
Di pelosok desa nun jauh disana, akhir-akhir ini terjadi pergeseran nilai oleh cengkraman zaman, media sosial dan pertarungan politik terbuka.
Selain itu, tak jarang para aktor, elit, politisi dan jejaringnya mulai bergeliat menelusuri ruang-ruang sosial warga.
Mereka tau betul, disana ada pundi harapan dan kepolosan warga dalam menentukan hak pilihnya yang suci.
Sikapnya bersahaja, sederhana, lagi ramah.
Dan orang kampung kadang memahaminya sebagai gejala alam, petanda "hujan politik" mulai mengguyur dimusim kering.
Hal demikian, semoga saja bukanlah gempuran praktek politik lancung nan culas yang menelanjangi pilar-pilar kolong sosial.
Sebab bila itu terjadi, maka kehadiran aktor-aktor itu justeru mencederai demokratisasi dilevel bawah.
Kekhawatiran tersebut muncul, karena ruang sosial warga sering menjadi objek empuk jualan politik, janji kampanye, politik uang, bahkan politik akal bulus yang akhir-akhir ini mulai kambuh bak "asam lambung", merajalela menggerogoti nalar sehat warga.
Padahal jika ditelisik lebih dalam, kolong itu tempat berlindung keluarga sederhana nun ramah, yang penuh harap pada keseriusan para wakil di parlemen sana untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan bagi orang kampung.
Muncul tanya, lantas bagaimana dengan warga di kota?
Pun, tak ayal ruang sosial mereka juga ada.
Bahkan kadang lebih tragis, misalnya sering dijumpai kolong jembatan tol dan gedung-gedung tinggi, termasuk "kolong kekuasaan" di perkantoran sebagai ruang interaksi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/hasim0119112021.jpg)