Opini Tribun Timur
Kolong
Dalam konteks pemukiman orang-orang Sulawesi Selatan, dulu dan kini rumah panggung menjadi karakter tersendiri dalam pranata sosialnya.
Oleh Juanto Avol
KOLONG rumah panggung selalu jadi tempat nyaman bagi warga dari generasi ke generasi di desa.
Hunian kayu multi fungsi itu sebagai tempat berlindung, istirahat, bermain bahkan tak jarang sebagai gudang gabah dan kandang ayam di bawahnya.
Dalam konteks pemukiman orang-orang Sulawesi, dulu dan kini rumah panggung menjadi karakter tersendiri dalam pranata sosialnya.
Ada banyak ragam pandangan budaya melekat sebagai ciri kearifan lokal.
Rumah kayu yang berkolong menjulang kokoh memiliki fungsinya masing-masing, bentuk, jenis dan simbol, merupakan petanda strata sosio-demokrasi dalam kebudayaan lokal.
Tentang kolong, sebut saja di bawah rumah panggung kampung halamanku.
Ada kebahagiaan akan engkau temukan yang tak kau dapatkan di kota.
Ruang seperti itu menjadi saksi perwarisan budaya yang mengakar kuat dalam kehidupan warga.
Ketika orang-orang kota disana berkata "kampungan" sebagai sentilan ketertinggalan, sungguh itu bukanlah pengakuan bahwa orang di desa tak tau hiruk-pikuk perkotaan, tak mengerti liku dan laku modernitas.
Malah sebenarnya dia yang jauh dari kota tak ingin ketinggalan informasi dan teknologi.
Bukankah di negeri ini pernah heboh oleh ulah seorang pemuda desa yang membobol bank ternama, sistem kemanan satekit negara lain? Ya, konon dia warga dari Sidrap dan Lampung, mampu mengendalikan teknologi di tengah sawah.
Bahkan kini sentilan tadi, penduduk desa memaknainya.., mereka orang kota, mungkin saja cemburu, sebab tak memiliki "kolong" kehidupan sosial yang damai di kampung. Bisa jadi, orang kota justeru merindu kehidupan ala kampung orang pelosok. Maka konotasi "kampungan" bukanlah hal yang miris.
Bileh dinyana, kita yang dari kampung sering lupa asal-usul, kemudian ber-laku kota?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/hasim0119112021.jpg)