Opini Andi Wiyana Permatahati Darwin
Geledah Penolakan Nadiem Makarim Terkait Usulan PM Malaysia
PM Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob ingin mengusulkan bahasa Melayu menjadi bahasa kedua ASEAN.
Oleh: Andi Wiyana Permatahati Darwin
Mahasiswa S1 Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebelumnya PM Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob ingin mengusulkan bahasa Melayu menjadi bahasa kedua ASEAN.
Dikutip dari CNA (Channel News Asia) pada hari Rabu tepatnya tanggal 23 Maret 2022, Dato’ Ismail menanggapi beberapa pertanyaan dari Majelis Tinggi Malaysia pada saat sesi tanya jawab mengenai upaya yang akan dilakukan untuk menjadikan bahasa Nasional Malaysia ke ranah tingkat internasional.
Semenjak keluarnya pernyataan dari Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob terkait usulan Bahasa Melayu menjadi Bahasa resmi ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations), pernyataan itupun langsung ditanggapi oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek).
Ia menyampaikan tanggapannya “Saya sebagai Mendikbudristek, tentu menolak usulan tersebut. Namun, karena adanya keinginan dari Negara sahabat jika mengajukan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN, tentu saja keinginan tersebut perlu diselidiki lagi dan dibahas lebih lanjut ditingkatan regional,” hal ini disampaikan oleh Nadiem di saat Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob berkunjung ke Indonesia.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat untuk saling tolong menolong dengan pemerintah untuk terus berdayakan dan bela bahasa Indonesia,” tambahnya.
Menurut Nadiem, bahasa Indonesia lebih layak dan pantas untuk dijadikan bahasa resmi ASEAN kedua setelah bahasa Inggris dengan mempertimbangkan keunggulan historis, hukum, dan linguistic.
Nadiem juga melakukan riset dan menilai penyebaran bahasa Indonesia telah meliputi 47 negara di seluruh dunia, maka dari itu Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Ia juga menambahkan, pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) telah dilaksanakan 428 lembaga, baik yang difasilitasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Ristek, maupun yang dilaksanakan secara mandiri oleh pekerja dari BIPA, pemerintah, dan lembaga yang ada di seluruh dunia.
Tidak hanya itu, Bahasa Indonesia bahkan dijadikan sebagai mata kuliah di sejumlah kampus kelas dunia di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia, serta di beberapa universitas terkenal di Asia.
Nadiem menambahkan “dengan semua keunggulan yang dimiliki Bahasa Indonesia dari aspek historis, hukum, dan linguistik, itu sudah sangat layak untuk berada di posisi terdepan, dan jika memungkinkan Bahasa Indonesia jadi pengantar pertemuan resmi ASEAN.
Melihat dari sejarahnya sendiri, cikal bakal Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu. Dengan kata lain, Bahasa Indonesia itu merupakan anakan dari Bahasa Melayu. Bahasa Melayu sendiri merupakan anakan dari Bahasa Austronesia. Bahasa Melayu mulai digunakan secara luas sebagai bahasa perantara perdagangan antar bangsa pada zaman kejayaan Kerajaan Sriwijaya, sekitar abad ke-7.
Pada waktu itu, para pedagang mancanegara yang hendak berlabuh dan berdagang di Kerajaan Sriwijaya kemungkinan besar menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa perantara untuk bisa bertransaksi.
Bahasa Indonesa awalnya memang berasal dari Bahasa Melayu khususnya Bahasa Melayu Riau, tetapi pada perkembangannya Bahasa Indonesia telah mengalami banyak perubahan yang membuatnya memiliki perbedaan dengan Bahasa Melayu. Perubahan ini disebabkan oleh adanya penciptaan kata baru, penyerapan terhadap bahasa daerah ataupun bahasa dari negara lain.
Selain itu kata dalam Bahasa Indonesia juga telah mengalami banyak pembakuan. Sehingga ada kata dari Bahasa Melayu yang sebelumnya digunakan dalam Bahasa Indonesia tidak digunakan lagi atau diubah ejaannya.
Kesimpulannya Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia pada dasarnya memiliki kesamaan karena Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Namun pada perkembangannya karena Bahasa Indonesia mengalami perubahan akibat pembakuan ejaan, penciptaan kata, dan penyerapan kata dari bahasa daerah dan bahasa asing maka bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu adalah bahasa yang berbeda, dimana kosakata dalam Bahasa Indonesia sudah lebih kompleks dari Bahasa Melayu.
Dilihat dari aspek suku bangsa, kenapa disebutkan Bahasa Indonesia walau Bahasa Indonesia itu sendiri berawal dari Bahasa Melayu ? Karena tidak semua penduduk di Indonesia berasal dari suku Melayu, yang dimana apabila menggunakan istilah yang berasal dari nama suku lain akan menimbulkan kontra dari suku-suku penduduk Indonesia. Dapat diambil contoh pada Bahasa Inggris.
Inggris merupakan nama negaranya. Suku/Bangsa negara Inggris adalah Anglosaxon. Namun kenapa dunia lebih menyebut Bahasa Inggris dan tidak menyebut Bahasa Anglosaxon ? Hal itu dikarenakan apabila kita menyebut suku/bangsa maka hal tersebut hanya akan merujuk pada suku/bangsa itu sendiri.
Sudah tentu negara-negara internasional pasti akan menolak memakainya jika Inggris mendeklarasikan Bahasa Anglosaxon kepada Dunia Internasional. Karena tiap-tiap negara punya identitasnya masing-masing. Untuk itulah Inggris menggunakan istilah Bahasa Inggris, memakai nama negara kedalam bahasa.
Contoh berikutnya adalah Bahasa Rusia. Rusia adalah negara yg luas dan terdiri dari berbagai suku/bangsa mayoritasnya adalah suku/bangsa Slavia.
Namun kenapa Rusia menggunakan Istilah Bahasa Rusia daripada Bahasa Slavia ? Padahal jika ditinjau dari penyebaran, Slavia itu luas mencakup negara-negara pecahan Soviet.
Disebut Bahasa Rusia karena Rusia menyadari rakyat mereka tidak semua bersuku-bangsa Slavia. Rakyat akan protes jika menggunakan istilah Bahasa Slavia di Rusia. Sama seperti di Indonesia, walau akarnya dari Melayu dan penyebaran Melayu itu ada di beberapa negara, tapi tetap dipakai istilah Bahasa Indonesia.
Maka dari hal itu, saya sependapat Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim. Bahasa Indonesia dengan semua keunggulan yang dimiliki dari aspek historis, hukum, dan linguistik sudah sangat layak berada di posisi terdepan, dan jika memungkinkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar untuk pertemuan resmi ASEAN.
Walaupun disebut Bahasa Indonesia, namun orang-orang Melayu di negara lain masih bisa memahaminya serta tidak ada orang-orang yang keberatan memakai istilah Bahasa Indonesia karena tidak ada suku bernama suku Indonesia. Namun, pasti orang-orang akan keberatan menggunakan istilah Bahasa Melayu, karena hal tersebut semua merujuk pada nama suku tersebut.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Andi-Wiyana-Permatahati-Darwin-31.jpg)