Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Syiar Ramadan 2022

Mudik, Apakah Sekadar Pulang Kampung atau Ada Pembelajaran Bagi Kaum Muslim

Syiar Ramadan dipandu oleh host, Kinan Aulia. Hadir sebagai narasumber, Dai Cendekiawan Alumni Timur Tengah, Sabaruddin LC.

Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM/KASDAR KASAU
Dai Cendekiawan Alumni Timur Tengah, Sabaruddin LC saat jadi narasumber Syiar Ramadan Kalla Grup episode 24 hadir dengan tema Mudik Sejati, Selasa (26/4/2022) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Syiar Ramadan Kalla Grup episode 24 hadir dengan tema Mudik Sejati.

Program ini disiarkan langsung di kanal You Tube dan Facebook Tribun Timur, Selasa (26/4/2022).

Syiar Ramadan dipandu oleh host, Kinan Aulia. Hadir sebagai narasumber, Dai Cendekiawan Alumni Timur Tengah, Sabaruddin LC.

Sabaruddin menyebut, mudik dan lebaran adalah dua sisi mata uang tak terpisahkan. Mudik menjadi tradisi bagi hampir semua manusia ketika mengakhiri bulan Ramadan untuk kembali ke kampung halaman.

Namun, perlu diketahui subtansi dari mudik itu. Apakah sekadar pulang kampung atau ada hal-hal pembelajaran bagi kaum muslimin dan muslimah dalam melakukan mudik.

Dalam Al Quran Allah berfirman, innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Mudik sesungguhnya adalah kembali kepada Allah SWT.

“Kalau mudik di kampung halaman tidak membawa rasa senang atau tidak suka, maka bisa kembali ke kampung asal, tempat berpijak melakukan pekerjaan dan sebagainya. Namun, ketika pulang ke akhirat tidak ada jalan untuk kembali,” jelasnya.

Dia mengingatkan untuk mempersiapkan beberapa hal ketika hendak mudik. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, bahwa mudik itu merupakan musafir, seper dua dari azab. Azab yang maksud bukan siksaan dari Allah SWT.

Makannya, pertama ketika ingin mudik melakukan niat  karena Allah, sehingga setiap langkah bernilai ibadah di sisi-Nya.

Jangan sampai mudik dilakukan tidak memperhatikan nilai-nilai dalam bulan suci Ramadan. Mudik hanya ingin  perlihatkan kendaraan baru, pakaian terbaru, sehingga inti, esensi dari mudik itu tidak didapatkan.

“Pertama ketika mudik niatnya karena Allah SWT. Sesungguhnya amal tergantung dari niatnya,” ucap pendidik Sekolah Islam Athirah ini.

Sabaruddin melanjutkan, kedua yang wajib diperhatikan ketika mudik adalah berpamitan. Banyak orang mudik tetangganya tidak tahu, padahal ketika terjadi sesuatu orang yang pertama dihubungi adalah tetangga.

“Olehnya itu, siapa ingin mudik dianjurkan pamitan terlebih dahulu kemudian meminta didoakan sepanjang dalam  perjalanan,” lanjutnya.

Ketiga, perlu diperhatikan adalah berdoa. Sabaruddin menyampaikan berdoa dan melakukan salat dua rakaat terlebih dahulu sebelum beranjak.

“Kita tidak tahu dalam perjalanan situasi dan kondisi seperti apa dihadapi, bisa jadi berkat doa dan salat sunah dilakukan Allah menyelamatkan sampai tujuan,”  terang Sabaruddin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved