TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Aktivitas berbeda terlihat di kawasan BTN Makkio Baji, C4 No.2, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Minggu (12/4/2026) pagi.
Warga tampak mengantre sambil menenteng berbagai jenis sampah nonorganik di depan Bank Sampah Unit (BSU) Makkio Baji.
Mereka menunggu proses penimbangan untuk menyetorkan sampah yang telah dipilah dari rumah.
Sampah-sampah tersebut tidak dibuang, melainkan dijual kepada pihak BSU dan memiliki nilai ekonomi bagi warga.
Kehadiran BSU Makkio Baji di RW 005 kini menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Bangkala.
Penimbangan dimulai sekitar pukul 08.30 Wita setelah Ketua BSU Makkio Baji, Desi Saraswati, tiba di lokasi.
Beragam jenis sampah nonorganik dibawa warga, mulai dari rak telur, botol plastik, gelas cup, kardus, kantong plastik, hingga besi dan kertas.
Sampah kemudian ditimbang dan dicatat oleh petugas.
Bagi nasabah tetap, hasil penjualan dicatat sebagai tabungan, sementara warga non-nasabah dapat langsung menerima uang setelah sampah diangkut ke Bank Sampah Pusat (BSP).
Salah satu warga selain nasabah tetap, Damis, mengaku rutin menyetorkan sampah setiap ada informasi jadwal penimbangan.
“Kami ikut menimbang setiap ada informasi dari grup,” ujarnya.
Ia menyebut sampah yang dibawa berasal dari rumah tangga dan telah dipilah sebelumnya.
Untuk sampah organik, warga memilih mengolahnya menjadi kompos.
“Kalau sampah dapur tidak dijual, kami olah jadi kompos untuk dipakai sendiri,” tambahnya.
Menurutnya, keberadaan BSU sangat membantu warga, baik dalam mengurangi volume sampah maupun memberikan tambahan pendapatan.
“Lumayan membantu. Selain lingkungan jadi bersih, ada juga hasilnya. Sekali menimbang bisa dapat sekitar Rp9 ribu sampai Rp20 ribu,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua BSU Makkio Baji, Desi Saraswati, mengatakan penimbangan dilakukan rutin setiap sepekan, biasanya pada akhir pekan.
Dalam satu kali penimbangan, jumlah nasabah yang hadir berkisar 40 hingga 50 orang.
Tidak hanya warga Makkio Baji, nasabah juga datang dari berbagai wilayah lain.
“Alhamdulillah, ada juga yang datang dari Baruga, Royal Spring, bahkan sampai dari Emmy Saelan. Ini karena informasinya menyebar dari mulut ke mulut,” ungkapnya.
BSU Makkio Baji telah beroperasi sejak Juli 2025 dan kini memiliki sekitar 230 nasabah terdaftar.
Dalam setiap kegiatan, volume sampah yang dikumpulkan mencapai 200 hingga 300 kilogram.
Seluruh sampah tersebut dipilah kembali sebelum dijual ke Bank Sampah Pusat.
“Biasanya satu atau dua hari setelah penimbangan, sampah sudah diangkut oleh BSP,” jelas Desi.
Ia menambahkan, edukasi kepada warga terus dilakukan dengan melibatkan RT/RW serta memanfaatkan media komunikasi kelompok.
“Kami juga rutin sosialisasi dan membuat kegiatan-kegiatan menarik agar warga semakin aktif,” jelasnya.