Tribun RT RW
RT RW hingga Warga Makkio Baji Makassar Diajari Ngompos, Sampah Dapur Disulap Jadi Pupuk
Kegiatan bertajuk Ngompos Bareng ini berlangsung di pos keamanan RW 005 BTN Makkio Baji C4 No.2, Minggu (12/4) pagi.
Penulis: Makmur | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pengurus Bank Sampah Unit (BSU) Makkio Baji bersama RT/RW 005 Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala menggelar sosialisasi dan edukasi pengelolaan sampah organik.
Kegiatan bertajuk Ngompos Bareng ini berlangsung di pos keamanan RW 005 BTN Makkio Baji C4 No.2, Minggu (12/4) pagi.
Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan Dosen Pertanian Universitas Hasanuddin, Rahmansyah Dermawan, sebagai pemateri.
Turut hadir Lurah Bangkala, Muhammad Dapri Kodding.
Ketua RW 005, Gunaldi, menegaskan persoalan sampah harus ditangani secara kolektif oleh warga.
“Persoalan sampah harus kita tanggulangi bersama melalui kerja bersama. Menjaga semangat warga untuk konsisten mengelola sampah itu menjadi tantangan bagi kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, jajaran RT di wilayahnya kini terus mengaktifkan Bank Sampah Makkio Baji sebagai upaya pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
Sementara itu, Lurah Bangkala Muhammad Dapri Kodding menyebut penataan sampah menjadi salah satu fokus utama pemerintah kota saat ini.
“Titik-titik penumpukan sampah harus kita berantas. Volume sampah yang mengalir ke Tempat Pembuangan Akhir harus kita reduksi. Persoalan sampah akan berpengaruh ke anak cucu kita nanti,” ucapnya.
Dalam sesi edukasi, Rahmansyah tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan cara mengolah sampah organik menjadi kompos di hadapan warga.
Ia menjelaskan pengolahan sampah organik sebenarnya tidak rumit jika metode yang digunakan tepat.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyiapkan wadah sederhana, seperti ember bekas atau kantong besar, yang dilubangi di bagian bawah.
“Tidak perlu harus alat konvensional seperti komposter. Wadah sederhana juga bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Rahmansyah mengingatkan agar sampah dipotong kecil-kecil agar lebih cepat terurai, serta menghindari memasukkan tulang karena membutuhkan waktu lama untuk membusuk.
Selanjutnya, bagian dasar wadah diisi kompos. Jika tidak tersedia, dapat menggunakan pupuk kandang atau tanah sebagai alternatif.
“Tujuannya untuk mempercepat pembusukan karena kompos sudah mengandung banyak mikroba,” ujarnya.
Setelah itu, sampah organik dimasukkan lalu disemprot cairan eco enzyme yang berfungsi mempercepat proses penguraian.
“Disemprot, bukan diguyur, agar menyebar merata,” katanya.
Proses tersebut dilakukan berlapis, yakni tanah atau kompos, lalu sampah, kemudian disemprot eco enzyme hingga wadah penuh.
Setiap lapisan ditekan agar udara keluar sehingga proses pembusukan berjalan optimal.
“Padatkan, semakin rapat semakin bagus,” ucapnya.
Terakhir, wadah ditutup rapat agar proses fermentasi berlangsung lebih cepat.
“Kalau dicacah halus dan ditambah kompos, dua sampai tiga minggu sudah bisa jadi pupuk kompos,” jelasnya.
Ia pun mengajak warga untuk rutin dan konsisten melakukan pengolahan sampah organik di rumah.
“Selain membuat lingkungan lebih bersih, pupuk kompos yang dihasilkan juga bisa dimanfaatkan untuk tanaman,” tuturnya.
PERSOALAN sampah masih menjadi tantangan di Kota Makassar, terutama di kawasan padat penduduk. Pengelolaan yang belum optimal berpotensi menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan.
Pemerintah Kota Makassar mengembangkan sistem bank sampah melalui Bank Sampah Pusat dan Bank Sampah Unit (BSU) di tingkat RT/RW. Program ini mendorong warga memilah sampah dari rumah sekaligus memberi nilai ekonomi pada sampah anorganik.
Bank Sampah Pusat Makassar di bawah Dinas Lingkungan Hidup berlokasi di Jalan Toddopuli Raya. Lembaga ini berfungsi menjemput dan membeli sampah anorganik yang telah dipilah oleh BSU di wilayah.
Kepala Tata Usaha Bank Sampah Pusat Makassar, Juardi, menjelaskan pembentukan BSU diawali dengan penyusunan struktur pengurus, mulai dari ketua, sekretaris hingga bendahara. Setelah itu, pengurus melapor ke kelurahan untuk penerbitan surat keputusan (SK), lalu menjalin kerja sama dengan Bank Sampah Pusat.
Kerja sama tersebut mencakup penjemputan dan pembelian sampah dari warga. Setiap BSU menerima daftar harga sekitar 45 jenis sampah anorganik, dengan nilai jual ditentukan oleh kualitas pemilahan.
Bank Sampah Pusat juga rutin melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada BSU, khususnya yang baru terbentuk. Warga diedukasi cara memilah sampah dengan benar agar memiliki nilai jual lebih tinggi, seperti melepas label botol plastik sebelum disetor.
Hingga kini, sekitar 350 BSU telah bekerja sama dengan Bank Sampah Pusat Makassar.(*)
| Kisah Habiba, Ibu Rumah Tangga yang Keliling Pulau Demi Warga |
|
|---|
| Camat Ujung Tanah Benahi Jadwal Angkut Sampah, Target 1 Jam Sudah Bersih |
|
|---|
| Jumat Bersih, Lurah Tekankan Lingkungan Sehat |
|
|---|
| Penjual Sarabba Sungai Cerekang Makassar Terancam, Lurah Gaddong Layangkan SP3: Segera Angkat Lapak! |
|
|---|
| RT/RW Suangga Makassar Turun Tangan PKL Liar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dosen-Pertanian-Unhas-Rahmansyah-Dermawan-memberikan-pemaparan-materi-pengelolaan-sampah.jpg)