Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Unismuh

Wakil Rektor II Unismuh Tawarkan 7 Strategi Pelestarian Bahasa Daerah, Apa Saja?

Arus globalisasi melalui media teknologi informasi menimbulkan kekhawatiran potensi punahnya Bahasa Ibu atau bahasa daerah.

Penulis: Faqih Imtiyaaz | Editor: Sudirman
Unismuh
Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar, Andi Sukri Syamsuri saat membawakan materinya, Sabtu (26/2/22) pagi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Arus globalisasi melalui media teknologi informasi menimbulkan kekhawatiran potensi punahnya Bahasa Ibu atau bahasa daerah.

Apalagi selama masa pandemi, masyarakat banyak berkutat di media sosial yang menawarkan berbagai bahasa dan istilah.

Sehingga pola pengembangan bahasa menjadi sangat pesat.

Baca juga: Tidak Sekedar Jadi Wisudawan Terbaik, Nur Muliasari Juga Diminta Mengajar di Unismuh, Ini Alasannya

Baca juga: Ini Tips Nur Muliasari hingga Jadi Wisudawan Terbaik Unismuh Makassar

Fenomena itulah yang dibahas Civitas Akademika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dalam Webinar Nasional melalui virtul meeting, Sabtu (26/2/22) pagi.

Webinar ini mengangkat tema “Pemertahanan Bahasa Ibu Pada Era Pandemi Covid-19”.

Tema tersebut dipilih dalam rangka memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional pada Senin (21/2/22).

Wakil Rektor II Unismuh, Andi Sukri Syamsuri menawarkan beberapa strategi pemertahanan bahasa daerah dari ancaman kepunahan.

Dalam catatan Andi Sukri, di Sulawesi Selatan terdapat empat belas bahasa daerah.

Yaitu bahasa Bojo, Bonerate, Bugis, Bugis De, Konjo, Laiyolo, Lemolang, Makassar, Mandar, Masserengpulu, Rampi, Seko, Toraja, dan Wotu.

“Jika kita tidak mengambil langkah dari sekarang, tidak menutup kemungkinan di Sulsel pun kepunahan bahasa daerah bisa terjadi,” ujar Andi Syukri Syamsuri.

Menurut Andi Sukri, pada masa pandemi Covid-19, banyak istilah-istilah asing yang bermunculan.

Istilah dari media sosial ataupun diungkapkan oleh pemerintah.

Antra lain, social distancing, Work From Home, Physical Distancing dan sebagainya.

“Penggunaan istilah asing yang eksis dua tahun terakhir ini, menjadi bagian kecil yang dapat menggeser penggunaan bahasa Ibu,” ungkap Associate Profesor dalam Bidang Pendidikan Bahasa Indonesia ini.

Meskipun demikian, Andi Sukri juga melihat peluang melestarikan bahasa daerah pada masa pandemi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved