Pinrang
Kisah Ramaliah, Setiap Hari Bertaruh Nyawa Selama Satu Jam untuk Mengakses Kebunnya
Untuk sampai ke kebunnya itu, Ramaliah mengakses jalan alternatif penghubung dua kecamatan tersebut.
Penulis: Nining Angraeni | Editor: Saldy Irawan
"Saya setiap hari turun melewati tangga Kaluppio untuk ke kebun saya. Begitu pula kalau pulang. Naik tangga ini lagi," katanya.
Dikatakan, Tangga Kaluppio akses tercepatnya.
Ketimbang harus melewati jalanan umum yang memakan waktu lama.
"Kalau lewat jalan umum saya harus memutar dulu. Bisa lewat Enrekang atau kota Pinrang. Tapi butuh waktu tiga jam menggunakan kendaraan," paparnya.
Namun, kata Ramaliah, jika lewat Tangga Kaluppio, ia hanya butuh waktu satu jam untuk sampai ke kebunnya.
"Lebih baik lewat Tangga Kaluppio karena hanya butuh waktu satu jam dan sudah sampai di kebun," ucapnya.
Ramaliah menuturkan, jika Tangga Kaluppio ini sudah ada sejak ratusan tahun.
Dulunya tangganya terbuat dari bambu.
Kemudian sekitar 20 tahun, warga menggantinya dengan kayu.
"Dulu masih bambu. Tapi karena ini akses tercepat warga di dua kecamatan, makanya kami bergotong royong menggantinya dengan kayu," tuturnya.
Hingga saat ini, Tangga Kaluppio menjadi akses utama warga di dua kecamatan tersebut.
Laporan wartawan Tribunpinrang.com, Nining Angreani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/nining-665.jpg)